Sabu Dicampur Detergen, Dimasukkan Septic Tank

400
SISAKAN LIMA GRAM: Petugas saat memusnahkan ratusan gram sabu di halaman Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, di Jalan Madukoro, Semarang, Selasa (24/2). (Adityo Dwi/Radar Semarang)
SISAKAN LIMA GRAM: Petugas saat memusnahkan ratusan gram sabu di halaman Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, di Jalan Madukoro, Semarang, Selasa (24/2). (Adityo Dwi/Radar Semarang)
SISAKAN LIMA GRAM: Petugas saat memusnahkan ratusan gram sabu di halaman Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, di Jalan Madukoro, Semarang, Selasa (24/2). (Adityo Dwi/Radar Semarang)

SEMARANG BARAT – Barang bukti narkotika jenis sabu seberat 297 gram yang dikendalikan oleh narapidana Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, dimusnahkan oleh petugas di halaman Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, di Jalan Madukoro, Semarang, Selasa (24/2).

Sabu yang diduga dipasok oleh bandar asal Nigeria itu dimusnahkan dengan cara diaduk menggunakan air dan detergen, kemudian dimasukkan ke dalam septic tank.
”Berdasarkan Pasal 27 ayat 2, Pasal 91 ayat 2 dan UU No 35 tentang Narkotika, maksimal tujuh hari setelah penetapan, barang bukti harus dimusnahkan,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah Kombes Pol Soetarmono, Selasa (24/2).

Sebelum dimusnahkan, sabu tersebut diuji keasliannya oleh petugas Laboratorium Forensik (Labfor). ”Kemudian setelah dinyatakan asli, sabu tersebut disisihkan 5 gram untuk keperluan di persidangan, sisanya dimusnahkan,” terangnya.

Pemusnahan sabu itu sendiri dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam ember dan dicampur air serta detergen. ”Setelah diaduk beberapa menit, barang haram itu dibawa untuk dimasukkan ke dalam septic tank. Hal itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Dijelaskannya, barang bukti sabu tersebut disita dari tersangka kurir sabu, Agung Sedayu Widiarso, warga Solo yang ditangkap tim intelijen BNN Jawa Tengah pada Rabu (4/2) lalu sekitar pukul 04.30. Diketahui, peredaran sabu tersebut dikendalikan oleh dua narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Nusakambangan, Sartoni alias Toni dan Sutrisno alias Pak Tris. ”Mereka adalah para pelaku peredaran sabu jaringan Solo-Jakarta, yang dikendalikan dari LP Nusakambangan. Mereka diduga kuat bagian dari sindikat bandar sabu asal Nigeria,” ungkapnya.

Tersangka Agung sendiri ditangkap di dalam bus PO Raya di SPBU Jalan Setia Budi, Kecamatan Banyumanik, Semarang. Sebelumnya, gerak-geriknya telah diikuti tim intelijen BNN sejak dari Terminal Pulogadung Jakarta. Setelah digeledah, petugas menemukan barang bukti sabu seberat 297 gram yang disimpan di kotak bedak Herocyn.

Setelah dikembangkan, terbongkarlah jaringan yang berada di LP Nusakambangan, yakni Sartoni dan Sutrisno. ”Saat ini, dua napi tersebut kami titipkan ke LP Kedungpane Semarang. Dua tersangka itu masih dalam tahap pelimpahan pertama,” katanya.

Dikatakan Soetarmono, peredaran narkotika di Jateng masih terbilang tinggi. Berdasarkan hasil riset Badan Narkotika Nasional bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) tahun 2008, dari jumlah populasi 23.351.700 warga di Jateng, sebanyak 493.533 orang terkena narkoba. ”Di Jateng, hanya tersedia 46 tempat rehabilitasi dengan kapasitas 1.002 orang. Sehingga masih ada 492.531 orang tidak tertangani,” katanya.

Dari sekian banyak orang yang terkena narkoba itu, 70 persen di antaranya adalah pekerja, kalangan pelajar 22 persen, dan selebihnya anak jalanan serta masyarakat umum. ”Kenapa pekerja tertinggi, alasannya akibat stres, sengaja untuk dopping, sudah mapan dan kecanduan narkoba sejak sekolah atau kuliah,” bebernya. (amu/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.