Tewas Akibat Benturan di Kepala

729
AKBP Harryo Sugihhartono. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
AKBP Harryo Sugihhartono. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
AKBP Harryo Sugihhartono. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Polres Kendal terus mendalami kasus dugaan perkelahian siswa MTs NU 10 Penajawa, Pageruyung yang mengakibatkan satu korban tewas. Selain memeriksa saksi-saksi, polisi kini juga sudah mengantongi hasil otopsi jenazah Muhamad Riwayadi, korban perekelahian.

Kapolres Kendal, AKBP Harryo Sugihhartono mengatakan, jika korban tewas akibat benturan keras di kepala bagian belakang. Sebelumnya dari hasil visum ditemukan ada dua luka dibagian mayat Riawayadi dibagian kepala. Yakni luka memar dibibir dan luka sedalam 1,5 senti meter dibagian kepala belakang.

Setelah dilakukan otopsi di RS Bhayangkara, korban dipastikan meninggal akibat terbentur keras di bagian kepala. Hal itu dibuktikan dengan adanya bekas luka di kepala bagian belakang. “Sedangkan luka memar di bibir bukan menjadi penyebab kematian,” katanya, kemarin.

Dengan adanya bukti tersebut, tim penyidik akan melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab korban terbentur kepalanya dan mengakibatkan korban kehilangan nyawanya. “Ini kasus yang unik. Mengingat korban maupun terlapor sama-sama anak di bawah umur,” imbuhnya.

Dalam kasus dugaan perkelahian ini terlapor atau orang yang diduga kuat menjadi penyebab kematian Riwayadi adalah MS yang tidak lain adik kelas dari korban Riwayadi. “Korban yang meninggal ini adalah kakak kelas terlapor. Yang menantang berekelahi juga korban,” tambahnya.

Sementara ini, dari pemeriksaan sejumlah saksi, kasus ini bermula saat upacara bendera, Senin (9/2). Yakni awalnya Muhamad Riwayadi bersandar ke bahu MS lantaran ingin berteduh karena panas pada saat upacara. Tidak terima bahunya disandari, MS kemudian mendorong tubuh Muhamad Riwayadi.

Hal itu membuat Muhamad Riwayadi naik pitam dan menantang berkelahi kepada MS. MS pun ketakutan dan memilih menolak tantangan berkelahi tersebut. Selasa (10/2), Riwayadi masih menyimpan dendam kepada MS dan kembali menantang untuk berduel, tapi tidak diladeni MS. Rabu (11/2) MS yang ketakutan ditantang berkelahi memilih untuk bolos sekolah.

Naas, pada Kamis (12/2) Muhamad Riwayadi yang masih terbakar amarahnya diberitahukan oleh salah seorang temannya jika MS berada di kelasnya. Sekitar pukul 09.10 WIB keduanya bertemu di depan toilet sekolah setempat.

Keduanya sempat terlibat cek-cok, hingga akhirnya korban Riwayadi memukul MS. Nah, saat Riwayadi hendak memegang kaki lawannya, MS mendorong hingga jatuh dan kepala Riwayadi terbentur lantai. “Tapi apakah MS saat mendorong korban ini karena reflek, karena ditarik kakinya atau sebab lain kami itulah yang masih kami selidiki,” tambahnya.

Kendati demikian, pihaknya mencoba mengambil langkah bijak dalam menangani kasus ini. Yakni dengan tindakan diversi (kekeluargaan), mengingat terlapor dan korban masih di bawah umur. Hal ini diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Selain itu, terlapor ini sebenarnya yang ditantang dalam perkelahian ini, tapi juga menjadi penyebab kematian korban karena terbentur lantai. Pertimbangan lain bahwa terlapor masih memiliki masa depan yang panjang,” paparnya.

Harryo menegaskan, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus ini. Terlapor hingga saat ini masih dikenakan wajib lapor. “Masih belum ada penetapan tersangka. Kami lihat hasil penyelidikan, apakah ada delik pidananya atau tidak,” tambah Kasatreskrim Polres Kendal, Iptu Fiernando Ardiansyah.

Sejauh ini pihaknya sudah memeriksa enam orang saksi. Diantaranya empat orang siswa, satu guru, dan kepala sekolah MTs 10 Penawaja. “Semua koorperatif dan situasi keluarga keduanya kondusif,” tandasnya. (bud/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.