Kapolsek Sempat Ditodong Parang

468
Kombes Pol Hendra Supriyatna. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
Kombes Pol Hendra Supriyatna. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
Kombes Pol Hendra Supriyatna. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Borok Wakapolsek Gunungpati AKP Hadi satu per satu mulai terbongkar. Polisi perwira itu ternyata pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kedungpane Semarang setelah divonis 3 bulan terkait kasus penganiayaan terhadap seorang wanita panggilan di sebuah tempat hiburan malam di Kota Semarang.

Saat itu, pelaku masih berpangkat Inspektur Polisi Satu (Iptu), dan menjabat salah satu kanit di Polres Semarang Barat (sekarang Polsek Semarang Barat, Red) pada 2004 silam.

Selain itu, AKP Hadi juga tercatat pernah bermasalah karena sengaja membawa keluar tahanan wanita kasus narkoba dari sel tahanan Mapolrestabes Semarang pada 2012 lalu.

Sederet rapor merah AKP Hadi itu mencuat pasca insiden menegangkan di Mapolsek Gunungpati, Senin (16/2) lalu. Dalam kondisi mabuk miras, AKP Hadi mengancam akan membunuh dengan menodongkan parang ke leher Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi. Dia juga merusak mobil Suzuki Karimun milik kapolsek.

Kabid Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Supriyatna tak menampik soal catatan hitam AKP Hadi tersebut. ”Iya, ada banyak catatan untuk AKP Hadi. Pernah dipenjara 3 bulan di LP Kedungpane Semarang atas kasus penganiayaan terhadap wanita panggilan di sebuah tempat hiburan malam di Semarang Barat tahun 2004,” ungkap Hendra saat ditemui Radar Semarang di ruang kerjanya, Kamis (26/2).

Dikatakannya, fakta hasil pemeriksaan dan arsip lama, AKP Hadi diketahui sebagai anggota polisi pemabuk. ”Untuk kasus membawa tahanan wanita di sel tahanan Mapolrestabes Semarang, masih kami telusuri. Kenapa dia bisa membawa keluar tahanan wanita dari dalam sel,” katanya.

Seperti diketahui, saat terjerat kasus tersebut, penyidik yang memeriksa AKP Hadi adalah Kompol Ahmadi, yang kala itu menjabat sebagai penyidik Propam Polda Jateng. Sehingga ada dugaan kuat, AKP Hadi menyimpan dendam terhadap Kompol Ahmadi.

Hendra mengaku heran, meski memiliki banyak catatan buruk, kenapa AKP Hadi mendapat jabatan atau kenaikan pangkat hingga menjabat sebagai Wakapolsek Gunungpati?

Selain itu, kata dia, status AKP Hadi yang saat ini kabur dan meninggalkan tugas sebagai anggota Polri, membuat yang bersangkutan terancam dipecat. Jika sampai 30 hari meninggalkan tugas tanpa seizin atasan, maka AKP Hadi berstatus desersi dan dipecat.

”Kalau sampai 30 hari meninggalkan tugas, otomatis desersi. Sesuai aturan, dia bisa dipecat. Kecuali kalau dia menyerahkan diri, masih bisa dimaafkan,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih melacak keberadaan AKP Hadi. Ada jejak melalui sinyal handphone, diketahui AKP Hadi berada di dekat Bandara Ahmad Yani Semarang. Namun saat dicek, dia sudah kabur. ”Tapi masih di Semarang,” kata Hendra.

Penanganan terhadap AKP Hadi, lanjut Hendra, pihaknya akan membidik pelanggaran pidana dulu. Setelah itu baru pelanggaran disiplin dan sidang kode etik. Namun sejauh ini, belum ada korban yang melaporkan tindak pidana. ”Seharusnya jika memang terjadi penganiayaan, korbannya melapor secara resmi agar bisa diproses pidananya,” ujarnya.

Pihaknya juga mengaku telah memeriksa Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi, dan saksi Hartono, pemilik rumah karaoke Cafe & Resto Kumala Asri tempat wakapolsek mabuk dan menyekap seorang sales promotion girl (SPG) produk rokok.

Hasil pemeriksaan, kericuhan tersebut bermula di ruangan Wakapolsek AKP Hadi sendiri. Saat itu, dalam kondisi mabuk, di ruang kerjanya dia mengamuk tanpa alasan jelas. Kemudian menemukan parang di ruangan itu. Diduga, parang tersebut adalah barang bukti kejahatan.

Dengan membawa parang itu, AKP Hadi kemudian masuk dan mengamuk di ruang Intel dan sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT). Saat itu, ia bertemu Aiptu Mian dan mendekapnya sambil menodongkan parang di leher. Setelah dekapan dan ancaman membunuh itu dilepas, AKP Hadi masuk ke ruangan kapolsek.

AKP Hadi langsung mengacungkan parang ke arah leher atasannya, Kapolsek Kompol Ahmadi. Bahkan, Kompol Ahmadi diancam akan digorok dan keluarganya akan dihabisi. ”Tidak tahu kenapa, kapolsek malah minta maaf kepada Hadi. Hingga akhirnya Hadi didorong dan terjatuh. Saat itulah, Ahmadi lari ke belakang di asrama polsek,” beber Hendra.

AKP Hadi yang sudah brutal kemudian mencari keluar ruangan. Namun tidak ditemukan, hingga kemudian melampiaskan dengan merusak mobil Karimun milik Kompol Ahmadi yang diparkir di halaman mapolsek.

Aksi brutal itu baru berhenti setelah AKP Hadi dijemput oleh saksi Hartono, pengusaha karaoke, menggunakan mobil Toyota Avanza. ”Dibujuk oleh angggota tidak mempan. Tapi begitu dibujuk oleh pemilik karaoke, AKP Hadi mau nurut dan dibawa pergi menggunakan Avanza. Hartono itu memang teman akrab AKP Hadi,” katanya.

Tak Lepaskan Tembakan

Hendra mengaku heran, kenapa Kapolsek Kompol Ahmadi tidak melepaskan tembakan. Konteks peristiwa itu sudah masuk kategori mengancam nyawa orang lain. Secara prosedur, Kompol Ahmadi seharusnya bisa melepaskan tembakan.

”Masak kapolsek kalah dengan pelaku kejahatan. Kalau penjahat lari, ditembak dari belakang itu tidak boleh. Kalau berhadapan, menyerang dan membahayakan nyawa, itu boleh menembak,” ujarnya.

Seperti diketahui, insiden memalukan itu bermula pada Senin (16/2) sekitar pukul 16.00. AKP Hadi bersama dua SPG rokok masuk ke room karaoke tak jauh dari Mapolsek Gunungpati.

Ketiganya pesta minuman keras sambil bernyanyi. Tiba-tiba sang wakapolsek mengamuk. Terjadilah keributan. Salah satu wanita SPG tersebut sempat disekap di dalam room karaoke. Mengetahui keributan tersebut, pengelola karaoke melapor ke Mapolsek Gunungpati. Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi langsung memerintahkan anggotanya untuk menjemput wakapolsek di tempat karaoke sekitar pukul 19.30. Namun AKP Hadi malah mengamuk. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.