Tengkulak Permainkan Harga Gabah

424
PANEN : Seorang buruh tani bersusah payah memanggul gabah basah usai dipanen dari areal persawahan di Desa Dempet, Kecamatan Dempet. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
PANEN : Seorang buruh tani bersusah payah memanggul gabah basah usai dipanen dari areal persawahan di Desa Dempet, Kecamatan Dempet. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
PANEN : Seorang buruh tani bersusah payah memanggul gabah basah usai dipanen dari areal persawahan di Desa Dempet, Kecamatan Dempet. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK-Para tengkulak diduga selalu bermain dalam penentuan harga gabah di tingkat petani. Karena itu, meski harga beras tinggi hingga Rp 12 ribu perkilogram, namun petani penggarap hanya menikmati sedikit. Bila harga beras setinggi itu, mestinya harga gabah bisa mencapai Rp 9 ribu perkilogram. Namun, yang terjadi di lapangan, petani hanya menjual gabahnya sebesar Rp 4.700 hingga Rp 5.700 perkilogram.

Apa yang pernah disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat berkunjung ke Demak tersebut menjadi perhatian Dinas Pertanian (Dispertan) setempat. Sekretaris Dispertan Demak, Wiwin Edi Widodo mengungkapkan, kenaikan harga beras yang tinggi, satu sisi menguntungkan pengusaha beras. Namun, di sisi lain membuat petani bukan penggarap juga mahal saat membeli beras.

“Kalau petani penggarap yang punya gabah juga bisa untung. Harganya stabil. Tapi, para tengkulak tentu paling banyak untungnya. Sedangkan, buruh tani paling tidak diuntungkan. Sebab, selain tidak punya pendapatan mereka juga harus beli beras yang mahal,” ujarnya.

Menurutnya, adanya operasi pasar yang digelar diharapkan tidak sampai menurunkan harga gabah di tingkat petani. Sebab, saat ini di wilayah Demak masih dalam suasana panen raya padi. Dari sekitar 50 ribu hektare luasan areal pertanian di Demak, yang melakukan panen raya baru sekitar 60 persen atau sekitar 26 ribu hektare. Artinya, masih sekitar 40 persen yang belum dipanen.

Wilayah tanaman padi yang belum dipanen berada di Kecamatan Bonang, Wedung, Karangtengah, Sayung dan Karangawen. Sedangkan, yang sudah melakukan panen adalah Kecamatan Dempet, Gajah, Karanganyar, Kebonagung dan Mijen.
Menurut Wiwin, saat panen raya ini, banyak pedagang dari wilayah Karawang, Jawa Barat yang menyerbu Demak. “Para pedagang dari Jawa Barat banyak yang beli gabah di Demak,” katanya.

Mereka membeli padi hasil panen petani dengan tingkat persaingan yang tinggi, utamanya dengan para tengkulak di Demak. Informasi yang beredar, pedagang luar daerah tersebut mau membeli gabah relatif tinggi dibandingkan dengan tengkulak atau pedagang lokal. Karena itu, ada sebagian pedagang lokal yang sempat menolak pedagang luar daerah tersebut karena kalah bersaing. (hib/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.