Pede Mainkan Musik Tradisional, Pernah Diusir Polisi

665
KOMPAK : Kelompok Agari n Rose saat tampil dalam acara di Magelang. Mereka membawakan alat musik angklung. (Puput Puspitasari/radar kedu)
KOMPAK : Kelompok Agari n Rose saat tampil dalam acara di Magelang. Mereka membawakan alat musik angklung. (Puput Puspitasari/radar kedu)
KOMPAK : Kelompok Agari n Rose saat tampil dalam acara di Magelang. Mereka membawakan alat musik angklung. (Puput Puspitasari/radar kedu)

Di tengah hiruk pikuk musik modern, Agari n Rose (ANR) memilih angklung sebagai ciri khas musik mereka. Seperti apa?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

Bersemangat. Ya, personel Agari n Rose (ANR) tampak semangat menabuh musik yang dipegang masing-masing. Kebahagiaan berbinar dari pandangan mereka. Saat itu, ANR tampil di depan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito berserta jajaran pemkot dan disaksikan langsung oleh Manager Mutiara Residence, Eddy Noor saat launching perumahan berkonsep go green itu beberapa waktu lalu.

Angklung tak sembarangan orang bisa memainkannya. Para personel ANR menguasai alat musik dengan otodidak. Sukuri Agari, 52, merupakan pendiri ANR. Cerita Sukuri, nama ANR diambil dari namanya dan istrinya. Sebelum berkutat pada musik tradisional, ANR lebih dulu mengusung musik dangdut. Tapi rasa bosan melanda, dia lantas ingin mencoba hal yang baru.
“Rasa ingin melestarikan musik-musik seperti ini jadi motivasi saya banting genre musik,” kata Sukuri.

ANR yang ber-basecamp di rumahnya Kelurahan Rumpakan, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, seminggu 3 kali mereka mengulik lagu-lagu terbaru yang sedang digandrungi masyarakat. Agari mengaku, walau bermusik tradisional namun harus mengikuti pasaran.

“Supaya tidak menjenuhkan. Jadi kita harus bisa menguasai banyak lagu, apalagi yang paling baru, kita tetap up date. Supaya yang mendengarkan kami terhibur,” akunya yang sudah menguasai 40 lagu populer.

Memang, ANR baru terbentuk sekitar satu tahun yang lalu. Tapi pengalamannya, tak bisa dibeli oleh waktu. Kata Agari, grupnya pernah manggung sampai ke Kalimantan. Selain itu kota terdekat seperti Semarang, Magelang dan Temanggung.

“Mungkin sudah rezeki kami. Padahal awal terbentuk cukup pesimis, tapi personel yang muda kok tidak merasa malu, jadi kita langsung kompakan saling ngasih motivasi,” urainya yang mengatakan saat ini personel ANR ada 7, dan semuanya menguasai alat musik yang ada agar bisa saling bergantian.

Cibiran beberapa orang terhadap keberadaannya, tak menciutkan kemauan mereka. Cemoohan justru jadi cambuk agar lebih baik. “Yang mencela, kami anggap itu evaluasi dan kami perbaiki,” tuturnya.

Soal harga satu set peralatan musiknya, Agari menyebutkan setara dengan keyboard yang pernah dia miliki untuk manggung organ tunggal. Sedihnya, kalau angklung, kenongan dan gambangnya rusak, dia harus memboyong alat itu ke penjualnya lagi untuk diperbaiki.

“Repotnya di situ. Satu not saja yang rusak, harus dibawa ke sana (Purwokerto, Red),” keluhnya.
Jelas saja biaya operasional ANR membengkak. Demi semua itu, ANR rela mengamen di pinggir-pinggir jalan, terutama di lampu merah Palbapang Mungkid, Kabupaten Magelang. walau panas terik, tetap meraka lakukan.

“Tapi kami tetap pakai seragam, kemudian pakai sepatu. Jadi dandannya juga panteslah kalau dilihat orang lain,” ungkapnya.
Selain tiga alat musik yang dibeli, ada juga yang buatan sendiri seperti tripong, bas, dan senar mereka buat sendiri dari hasil inovasinya. Bahannya sederhana dan mudah didapat. Kata Agari hanya dari ban bus atau truk bagian dalam yang digunakan untuk menutupi lubang pipa, lalu diikat kencang.

“Ukuran dan panjang memang berbeda untuk menghasilkan suara berbeda. Tapi simbalnya, kami beli jadi,” urainya.
Personel ANR, Santoso, 45, menambahkan, membuat alat musik sendiri memang untuk menekan biaya. Dengan membuat sendiri, ada kebanggaan saat memainkan alat musiknya itu.

“Tapi sulitnya kalau alat musik tradisional seperti angklung dan kenongan hanya satu nada saja. Jadi bukan musik yang mengikuti penyanyinya, tapi penyanyinya yang harus ngikutin musiknya. Cuma bisa nada rendah dan nada tinggi saja,” ungkapnya.

Vokalis ANR ini, berkisah pertama kali ngamen di jalan sempat diusir oleh polisi yang sedang berpatroli. Padahal itu hari pertama mereka mengadu nasib. “Ya nggak apa-apa diusir, mungkin karena kami dianggap mengganggu ketertiban umum. Jadi kami terima saja, ya memaklumi,” tuturnya.

Walaupun perasaan itu bertolak belakang dengan misi ANR, yang ingin mencari uang sambil menyalurkan hobi, namun dapat menghibur masyarakat. (*/lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.