Resmi DPO, Foto AKP Hadi Disebar

3708
BURON: AKP Hadi yang menjadi DPO. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
BURON: AKP Hadi yang menjadi DPO. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
BURON: AKP Hadi yang menjadi DPO. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Perwira polisi bernama AKP Hadi mendadak menjadi ’terkenal’. Kali ini, Wakapolsek Gunungpati itu resmi ditetapkan menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron. Penetapan tersebut dikeluarkan dan ditandatangani oleh Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono.

”Kami resmi menetapkan status DPO, mulai berlaku hari ini (Jumat, 27 Februari 2015), untuk memudahkan penangkapan,” tegas Djihartono di Mapolrestabes Semarang, Jumat (27/2).

Terpampang foto AKP Hadi yang terlihat garang dengan kumis tebal, dalam selebaran yang langsung disebarkan ke seluruh kantor polisi, mulai dari tingkat polsek hingga polres di bawah jajaran Polda Jateng.

”Dia kami tetapkan DPO karena sejak kejadian tidak ada di tempat (melarikan diri, Red),” kata Djihartono.

Tertulis ciri-ciri secara fisik AKP Hadi. Di antaranya, pria berusia 52 tahun, berat badan 75 kg, tinggi 168 cm, muka oval, berkumis tebal, dan berambut ikal. Perwira yang pernah menjabat sebagai Kanit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang itu melanggar pasal 13 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf e Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2011 tentang kode etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. ”Fotonya sudah kami sebar ke intern (polsek-polsek dan polres) dulu,” ujarnya.

Sejauh ini, AKP Hadi tinggal di sebuah rumah di Perum Korpri, Sendangmulyo, Tembalang. Dia menghilang pascainsiden keributan di kafe dan karaoke Kumala Asri, Gunungpati, Semarang, dan mengancam membunuh Kapolsek Gunungpati, Kompol Ahmadi menggunakan parang, Senin (16/2) lalu.

Upaya penyebaran foto DPO tersebut, Djihartono berharap, agar perwira yang dikenal memiliki hobi mabuk itu bisa segera ditangkap. Atas kejadian tersebut, lanjut Djihartono, AKP Hadi tidak layak menjadi anggota polisi dan terancam dipecat karena telah memalukan korps kepolisian. ”Dia sudah tidak layak menjadi seorang polisi,” tandasnya.

Djihartono juga mengimbau kepada seluruh masyarakat jika melihat atau mengetahui keberadaan AKP Hadi, diminta melapor ke kantor polisi terdekat.

”Kami akan mengusut unsur tindak pidananya terlebih dahulu. Berikutnya nanti baru sanksi disiplin dan kode etik,” katanya.

Menurutnya, perbuatan Hadi bukan termasuk delik aduan, sehingga ada atau tidak ada laporan tetap bisa ditangani oleh pihaknya. ”Kalau itu sudah terbukti baru kami lanjutkan ke sanksi lain,” ungkapnya.

Secara otomatis, AKP Hadi jika tidak menyerahkan diri atau dalam masa 30 hari berturut-turut tidak masuk tugas sebagai anggota Polri, maka ia berstatus desersi. ”Itu nanti masuk dalam pelanggaran kode etik dan disiplin,” kata Djihartono.

Kabid Propam Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Supriyatna pun menyatakan geram mendengar AKP Hadi melakukan perbuatan konyol tersebut. Pihaknya juga menegaskan tidak akan tinggal diam. ”Jika dia tertangkap, pasti pertama kali saya suruh menghadap ke ruangan saya. Saya ingin melihat wajah aslinya (AKP Hadi) seperti apa,” tandas Hendra.

Dikatakannya, pihaknya telah berusaha menelusuri keberadaan AKP Hadi. Sempat terendus, keberadaannya berada di sekitar Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Namun saat dikejar, ia berhasil kabur.

AKP Hadi memang telah dicap memiki sederet rapor merah. Di antaranya, pernah mendekam sebagai narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kedungpane Semarang selama 3 bulan pada 2004 silam.

Saat itu, Hadi berpangkat Iptu, menjabat sebagai seorang Kanit di Polres Semarang Barat (sekarang Polsek Semarang Barat, Red) menjadi tersangka dan terdakwa perkara penganiayaan terhadap seorang wanita panggilan di sebuah tempat hiburan malam di Kota Semarang.

AKP Hadi juga tercatat pernah bermasalah karena sengaja membawa keluar tahanan wanita kasus narkoba dari sel tahanan Mapolrestabes Semarang pada 2012 lalu. Selain itu, perwira tersebut dikenal pemabuk berat. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.