Korban Puting Beliung Meninggal

399
BERDUKA : Kerabat dan saudara korban Bambang Triyono saat melayat di rumah duka Minggu kemarin. (Puput puspitasari/radar kedu)
BERDUKA : Kerabat dan saudara korban Bambang Triyono saat melayat di rumah duka Minggu kemarin. (Puput puspitasari/radar kedu)
BERDUKA : Kerabat dan saudara korban Bambang Triyono saat melayat di rumah duka Minggu kemarin. (Puput puspitasari/radar kedu)

MAGELANG – Akibat lukanya terlalu parah, korban angin puting beliung, Bambang Triyono, 46, warga Kampung Paten Gunung, Kelurahan Rejowinangun Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, meninggal dunia.

Pria yang tertimpa pohon saat melintas di Jalan Pemuda Kota Magelang itu meninggal Minggu (1/3) dini hari ketika dirawat di RST dr Soedjono. Keluarga sangat terpukul dengan kepergian korban.

Slamet, pakde korban, mengatakan sebelumnya Bambang dirawat di ICU RSUD Tidar Kota Magelang. Saat itu kondisi pria yang sehari-hari penjual rosok itu dalam keadaan koma. Dia juga mengungkapkan, jika angin juga merusak beberapa intalasi listrik sehingga pelayanan rumah sakit ikut terganggu.

“Saat padam, almarhum diberi obat agar kondisinya stabil,” ungkapnya.
Menurutnya, Bambang dirujuk ke RST Soedjono untuk menjalani operasi bedah saraf karena mengalami gegar otak. Begitu dipindah, keponakannya itu tidak langsung dioperasi karena masih dalam pengaruh obat dari rumah sakit sebelumnya.

Kemarin, istrinya, Asih, terlihat pucat, matanya sembab. Dia masih tampak lemas membendung kesedihan setelah suaminya dinyatakan meninggal oleh dokter RST dr Soejono sekitar pukul 02.00 dini hari.

Asih sabar melayani para pelayat yang menyambangi rumah bercat ungu itu. Menghela nafas, dan sesekali putri keduanya membujuknya untuk makan.

Sulis, 47, kakak kandung korban mengaku tak merasakan firasat apa-apa sebelum kepergian adiknya itu. Dari 4 bersaudara, Bambang memang satu-satunya anak laki-laki dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.

Walaupun sudah berkeluarga, Bambang masih peduli dengan saudaranya. Dia merasa kehilangan dengan kematian adiknya yang meninggalkan istri serta dua putrinya yang masih kuliah dan bersekolah.

“Nggak menyangka dia pergi dengan cara seperti itu, sebelumnya tidak pernah pesan apa-apa ke saya atau yang lainnya,” akunya.

Sulis mengungkapkan, sebelum ajal menjemput, keluarga sempat dibuat rasa lega dengan kondisi almarhum yang menunjukkan perkembangan. Saat dibisiki oleh para keluarganya, Bambang merespons dengan tangis.

“Dia meneteskan air mata walau saat itu dia masih belum bisa berkata-kata. Saat menangis dia masih dalam kondisi terbaring dan matanya tertutup,” ucapnya sambil menghela nafas.

Bukan hanya keluarga Bambang yang terpukul, tetangga depan rumah korban juga mengaku kehilangan. Di mata Supriyono, 72, pensiunan guru itu, Bambang adalah orang yang baik, ulet, dan senang membantu tetangganya.

“Dia juga rajin ke masjid. Kalau ada tetangga yang sripah (kematian, Red), dia juga pasti bantu. Temannya juga banyak, tadi yang layat banyak sekali,” tuturnya.

Sebelum meninggal, menurutnya, Bambang terlihat lebih rajin dari biasanya. Apalagi, gudang rosok yang disewa Bambang dari Utik Domo minta untuk dikosongkan. Pasalnya, pemilik ingin membangun gudang itu menjadi kos-kosan.

“Sebelum kejadian dia tertimpa pohon, sama istrinya membersihkan gudang. Besi-besi dan barang rosok dia keluarkan, ditata, dikemas-kemasin terus dijual. Dia juga sempat member makan ayam miliknya,” imbuhnya. (put/lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.