Pemkot Harus Miliki Target yang Jelas

329

SEKAYU – Pemerintah Kota Semarang harus mempunyai target yang jelas terhadap dua resosialisasi yakni Argorejo Sunan Kuning dan Gambilangu (GBL). Hal itu untuk mengatasi masalah pelacuran di Kota Semarang.

”Saya nilai pemkot tidak tegas. Dua resos itu harus ada kejelasan bagaimana nanti ending-nya. Mereka para penghuni resos harus dientaskan karena saya yakin mereka pun sebenarnya tidak ingin bekerja seperti itu dan tidak mungkin jadi penghuni resos selamanya,” kata Ketua Badan Legislatif (Baleg) DPRD Kota Semarang Suharsono, Minggu (1/3).

Suharsono mengakui masalah pelacuran memang sangat kompleks sehingga perlu penangangan yang matang dan komprehensif. Namun semua itu tergantung pada ketegasan pemerintah kota dalam hal ini wali kota. ”Penutupan lokalisasi Dolly saya pikir bisa jadi pemicu bagi daerah lain bagaimana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akhirnya berani bertindak tegas. Tapi juga tetep ngasih solusi pada para PSK-nya,” katanya.

Saat ini Baleg DPRD Kota Semarang sedang menyiapkan perda terkait resosialisasi. Aturan tersebut perlu agar ada konsep yang matang terutama ketika nantinya kedua resos itu ditutup, pemkot sudah melakukan persiapan yang matang. Minggu ini dewan akan mengundang pihak akademisi dari sejumlah perguruan tinggi guna meminta masukan terkait raperda yang sedang dibahas. Para akademisi yang merupakan pihak di luar eksekutif dan legislatif harus memberikan pandangan keilmuannya. ”Selanjutnya akan diundang pihak terkait lainnya seperti para ulama, LSM, Kepolisian dan tentunya para pengelola resos,” kata politisi PKS itu.

Terpisah, Sekertaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Ahmad Rofiq mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, perlu ada aturan yang jelas untuk mengatasi pelacuran, baik yang di pinggir jalan maupun yang ada di dalam lokalisasi. Ahmad menambahkan, jika dilihat dari sisi mana pun baik dari sudut pandang agama, sosial maupun budaya, persoalan pelacuran baik itu tempat dan para pekerja seksnya itu merupakan sesuatu hal yang tidak baik. ”Apalagi akibatnya menimbulkan penyakit HIV AIDS yang mematikan jadi memang harus menjadi perhatian betul dari semua pihak tuh masalah pelacuran,” ujarnya.

Oleh karena itu pihaknya setuju apabila lokalisasi ditutup namun sebelum itu dilakukan harus ada kajian yang mendalam sehingga dampak penutupan itu tidak buruk nantinya. ”Para PSK harus diberi keterampilan dulu biar nantinya bisa mandiri, bila perlu dikasih modal. Dengan demikian ketika lokalisasi ditutup mereka sudah dapat pekerjaan penggantinya,” katanya.

Psikolog Probowatie Tjondronegoro juga mengatakan, penutupan lokalisasi di Kota Semarang merupakan hal yang tepat. Ia lebih menyoroti banyak terdapatnya anak-anak yang ada di sekitar maupun di dalam lokalisasi tersebut. ”Kalau dilihat, setiap malam maupun siang di dalam lokalisasi ada anak-anak. Bahkan beberapa dari PSK juga sengaja mengajak anak mereka yang masih usia kecil untuk menunggui orang tuanya saat bekerja. Itu sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis anak itu,” katanya. (ewb/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.