Tujuh Desa Rawan Longsor

280

KENDAL – Setidaknya tujuh desa dari total 14 desa yang ada di Kecamatan Patean rawan terjadi bencana longsor. Dua diantaranya bahkan rawan terjadi banjir. Sejumlah warga yang berada di lokasi itu diminta untuk waspada bencana, terutama ketika musim hujan datang.

Tujuh desa yang rawan longsor tersebut yakni Desa Sidodadi, Sidokumpul, Kalices, Curuk Sewu, Pagersari, Kalilumpang dan Kalibareng. “Sedangkan dua Desa yang juga rawan banjir adalah Sidodadi dan Sidokumpul,” kata Camat Patean, Kendal, Yanuar Fatoni, Minggu (1/3).

Bencana longsor yang mengancam warga tujuh desa di Patean menurutnya lantaran kontur tanah di Patean berada wilaya tinggi yang banyak bukit-bukit. Sehingga banyak terdapat kontur tanah yang miring. Hal tersebut diperparah dengan kondisi tanah yang labil.

Selain itu banyak alih fungsi lahan hutan menjadi lahan produktif atau lahan pertanian. Yakni warga Patean yang 90 persen hidup hidup sebagai petani memanfaatkan lahan hutan untuk ditanami jagung. Sehingga tidak ada serapan air yang maksimal. “Praktis ketika hujan air langsung turun dan mengakibatkan erosi. Sementara kontur tanah yang labil menjadikan mudah longsor jika tergerus air. Sementara air yang masuk ke Sungai Curuk Sewu membawa lumpur dan mengakibatkan sungai dangkal. Akibatnya dua desa yang berada persis di tepi sungai yakni Desa Sidodadi dan Sidokumpul juga rawan banjir,” imbuhnya.

Ia menambahkan, sementara ini tidak banyak yang dapat dilakukan warga untuk mencegah banjir. Warga hanya melakukan siaga bencana dengan melakukan siskamling untuk mewaspadai longsor jika terjadi setiap saat. “Kami sudah mennghimbau warga agar waspada, sebab bencana longsor tidak dapat dipredisiksikan,” imbuhnya.

Pihaknya bersama seluruh aparat desa dan seluruh elemen masyarakat telah mengusahakan agar warga yang ngotot menanam jagung juga dapat menanami dengan pohon kayu untuk mencegah bencana longsor. “Tapi sulit karena warga juga bersikeras tidak ingin kehilangan mata pencahariannya,” tambahnya.

Kondisi terparah sejauh ini ada di Desa Sidodadi dan Sidokumpul. Banyak badan jalan yang dilalui dua desa tersebut terkikis karena erosi. Bahkan banyak jalan yang patah karena minimnya air sungai. Bahkan ada satu dusun yang kini terisolasi, yakni dusun Cipluk Wetan di Desa Sidokumpul lantaran jembatan desa hilang diterjang banjir. “Kondisinya warga Dusun Cipluk Wetan untuk beraktivitas baik itu sekolah, ke puskesmas, ke pasar dan sebagainya harus menyebrangi sungai. Itupun harus menunggu debit sungai tidak mengalami kenaikan,” tambahnya.

Ketua Korps Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) Kendal, Kartika Nursapto mengatakan suah melakukan penelitian di Patean. Hasilnya memang banyak desa yang rawan bencana longsor. “Kami berupaya nanti ada kerjasama dengan Perhutani maupun mahasiswa di UGM untuk melakukan penanaman dan pencegahan serta pendampingan kepada masyarkat di Patean,” katanya.

Ia berharap, baik pemerintah daerah Kendal maupun pemerintah provinsi bisa membantu warga Patean agar tidak terus menerus dihantui lonsor yang dapat mengancam jiwa warga. “Sebab lebih kurang ada 700 kepala Keluarga di Desa Sidokumpul dan Sidodadi yang paling parah tingkat rawan bencananya ,” tambahnya. (bud/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.