Terancam Kehilangan Generasi Petani

456
MAKIN SEDIKIT : Jumlah petani di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang semakin menyusut dan terancam tak memiliki generasi penerus. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
MAKIN SEDIKIT : Jumlah petani di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang semakin menyusut dan terancam tak memiliki generasi penerus. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
MAKIN SEDIKIT : Jumlah petani di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang semakin menyusut dan terancam tak memiliki generasi penerus. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

SURUH—Sektor pertanian di Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, semakin mengkhawatirkan, lantaran kehilangan generasi penerus. Umur para petani, umumnya sudah lanjut usia, di atas 50 tahun. Sedangkan anak-anaknya, lebih diarahkan bekerja di pabrik sehingga tidak ada regenerasi petani. Selain itu, para petani juga mulai kesulitan mencari buruh tanam yang semakin habis.

Kondisi tersebut diperparah oleh berkurangnya lahan pertanian. Setiap tahun, lahan pertanian mengalami penyempitan 1 sampai 2 persen dari jumlah lahan sawah seluas 650 hektare.

“Saat ini, kami terus memotivasi agar para petani bisa melakukan regenerasi petani,” kata Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Suruh, Eny Sriwidayati melalui Petugas Lapangan Pertanian Kecamatan Suruh, Sam’an, kepada wartawan Radar Semarang, Senin (3/2) kemarin.

Menurutnya, banyak orang tua menganggap pekerjaan sebagai petani tidak memiliki gengsi. Orang tua yang dulunya petani, saat ini lebih mengarahkan anak-anaknya bekerja sebagai buruh pabrik. “Ada anggapan yang keliru. Saat ini, para petani tidak ingin membuat anak-anaknya bekerja berat seperti dirinya (petani, red),” tuturnya.

Di sisi lain, imbuhnya, pemerintah berupaya menggenjot produksi pertanian. Meski mendapatkan banyak dilema, namun UPTD Pertanian Kecamatan Suruh mendukung gerakan TNI AD melalui Babinsa. Yakni, melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap petani.

“Di lapanganpun banyak petani mengeluhkan hama tikus. Saat ini, kami telah mengadakan pembinaan penangkaran burung hantu di sawah, agar bisa mengurangi populasi tikus. Konsepnya hampir sama dengan petani yang ada di Demak,” tandasnya.

Sementara itu, Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP), Asrofi, 41, mengatakan bahwa untuk mengatasi kesulitan mencari buruh tani, perlu dilakukan alih teknologi dengan alat tanam padi. Rencananya bakal diberikan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbuthut) Kabupaten Semarang, tapi saat ini belum kunjung datang.

“Tentang masalah pupuk, kami juga mendapatkan keluhan dari petani tentang adanya pupuk Fronska yang membuat tanaman padi jadi menguning. Penjualannya melalui mobil. Karena distribusi pupuk kadang terlambat, banyak petani yang membeli di pengecer dan mobil keliling,” pungkasnya. (abd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.