Air PDAM di Kendal Kerap Mati

601

KENDAL – Sejumlah warga di Boja, Kendal mengeluhkan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirto Panguripan Kendal. Sebab air PDAM sering mati dan aliran air juga tidak deras, sehingga warga merasa dirugikan karena harus membayar biaya mahal setiap bulannya.

Seorang warga, Maryanah, 27, warga Desa Meteseh mengatakan jika air PDAM dikampungnya hanya hidup setengah hari saja. Yakni pagi dan sore saja, itupun airnya tidak bisa deras karena harus berebut dengan warga lainnya. “Sebab pada pagi dan sore adalah jam-jam sibuk aktivitas rumah, ya mandi, mencuci, memasak dan sebagainya. Praktis semua warga menggunakan air, sehingga air tidak bisa mengalir deras,” keluhnya, Selasa (3/3).

Kondisi seperti itu sudah berlangsung hingga berbulan-bulan, sementara tidak ada tindakan dari PDAM untuk memberbaiki pelayanan kepada para pelanggan di Boja. “Kami sudah mengeluhkan dan melaporkan ini kepada PDAM, tapi sampai sekarang tidak ada tindakan,” tuturnya.

Bahkan lantaran kekurangan air, warga terpaksa harus membeli air dari pedagang air karena kebutuhan air dari PDAM terkadang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Warga tidak bisa menampung air di tandon, karena air dari PDAM tidak mengalir deras. Hanya bisa untuk mandi dan mencuci saja. Sedangkan untuk memasak, warga harus beli air lagi, Sehingga keluar biaya dobel. Yakni untuk biaya bayar PDAM dan beli air,” tambahnya.

Senada dikeluhkan Indriyani, 23. Ia menambahkan selain kondisi air yang setiap hari mati, juga kondisi air yang diterima masyarakat kerap bau. “Airnya bening, tapi bau sehingga tidak bisa digunakan untuk masak. Jadi warga terpaksa beli,” katanya.
Pelayanan buruk PDAM Tirto Panguripan menurutnya telah merugikan banyak konsumen di Boja. Hal itu menurutnya tidak sesuai dengan kebijakan PDAM menaikkan tarif dasar air dari Rp 1.400 menjadi Rp 2.000 per meter kubik. “Kami minta agar layanan segera diperbaiki, karena air merupakan kebutuhan utama masyarakat,” tambahnya.

Direktur Tehnik PDAM Tirto Panguripan, Sunanto mengakui, air PDAM di Boja dan sekitarnya kerap mati. Hal tersebut di terjadi karena sumber air PDAM di Meteseh belum tercukupi kebutuhan listriknya. “Kebutuhan listrik dari PLN belum terpasang, jadi alternatifnya kami menggunakan generator set (genset) untuk menyalakan pompa air untuk disalurkan ke masyarkat,” katanya. Karena menggunakan genset, sehingga tidak bisa menyalakan secara penuh pompa selama 24 jam setiap harinya. Saat ini, diakuinya dengan genset PDAM hanya menyalakan 19 jam yang terbagi dalam dua waktu. Yakni pagi dan sore hari.

Pihaknya mengaku sudah melakukan upaya agar kebutuhan listrik di Sumber Air Meteseh segera dipasang. “Kami juga sudah mendesak PDAM, akhirnya dikabulkan dan bulan ini mulai dilakukan pemasangan,” tambahnya.

Kabag Hubungan Pelanggan PDAM Tirto Penguripan, Aden mengakui, jika ada keluhan dari masyarakat terkait air bau. Hal itu merupakan air dari sumber air PDAM di Simbang. “Airnya memang bersih dan dicek oleh dinas kesehatan air ini tidak berbahaya. Tapi memang bau. Tapi akhirnya kami hentikan, dan membangun lagi sumber air di Meteseh. Tapi kendalanya listrik belum terpenuhi, jadi kami masih menunggu PLN,” akunya. (bud/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.