Batang Membara, Demo Ribuan Nelayan Ricuh

472
DEMO RICUH : Ribuan nelayan saat melakukan aksi demonstrasi, namun diwarnai aksi pemblokiran Jalan Pantura Batang, sehingga menimbulkan kemacetan kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
DEMO RICUH : Ribuan nelayan saat melakukan aksi demonstrasi, namun diwarnai aksi pemblokiran Jalan Pantura Batang, sehingga menimbulkan kemacetan kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
DEMO RICUH : Ribuan nelayan saat melakukan aksi demonstrasi, namun diwarnai aksi pemblokiran Jalan Pantura Batang, sehingga menimbulkan kemacetan kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Ribuan nelayan dari Kabupaten Batang, Selasa (3/3) siang kemarin, buktikan ancamannya. Mereka turun jalan, jadikan Batang membara. Mereka memblokir sepanjang Jalan Gajah Mada, Desa Sambong, Kecamatan/Kabupaten Batang. Jalur pantura arah Semarang-Jakarta macet total hingga 5 jam lebih. Tak hanya itu, aksi juga berlangsung ricuh dan anarkis. Mereka juga menghajar dan memukuli Kasat Reskrim Polres Batang, AKP Hartono, saat mengamankan aksi demo tersebut.

ANARKIS : Ribuan nelayan melakukan aksi pembakaran ban dan tali tambang dalam aksi demonstrasi yang berujung anarkis, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
ANARKIS : Ribuan nelayan melakukan aksi pembakaran ban dan tali tambang dalam aksi demonstrasi yang berujung anarkis, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

Aksi tersebut digelar lantaran penolakan dan keberatan para nelayan yang tak digubris oleh pemerintah. Yakni, keberatan atas Surat Keputusan (SK) Peraturan Mentri (Permen) Kementrian Kelautan Perikanan (KKP) Nomor 2 Tahun 2015 tertanggal 8 Januari 2015, tentang larangan penggunaan pukat hela dan pukat tarik. Pasalnya, akibat SK KKP tersebut, telah menyebabkan ribuan nelayan kehilangan pekerjaan dan tak bisa melaut.

KERAHKAN PETUGAS : Polres Batang mengerahkan satu peleton pasukan anti huru-hara dan mendatangkan mobil water canon untuk memadamkan 5 titik kobaran api di sepanjang jalur pantura tersebut. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
KERAHKAN PETUGAS : Polres Batang mengerahkan satu peleton pasukan anti huru-hara dan mendatangkan mobil water canon untuk memadamkan 5 titik kobaran api di sepanjang jalur pantura tersebut. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

Aksi yang dilakukan secara spontan tersebut, bermula dari adanya ratusan nelayan dari Kelurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, yang hendak berunjuk rasa di Alun-Alun Kota Batang. Namun sebelum sampai di Alun-Alun, tiba-tiba sekelompok pemuda nelayan, membakar tali tambang besar yang biasa digunakan di kapal untuk melaut, tepat di perempatan Jalan Raya Pantura Pasar Batang.

Melihat kobaran api yang kian membesar, ratusan Polres Batang langsung mengadakan pengamanan dengan memadamkan api tersebut. Langkah tersebut, justru menyebabkan ribuan massa nelayan semakin beringas.

Hanya dengan berjalan kaki, ribuan massa bergeser ke arah timur yang berjarak 1 kilometer dari aksi pembakaran tali tambang semula. Sepanjang Jalan Gajah Mada, ribuan massa menghancurkan semua fasilitas umum, mulai dari pot bunga, rambu lalulintas pembatas jalan. Bahkan pembatas jalan yang terbuat dari batu batako turut dirusak massa, dengan cara dilempar ke tengah jalan.

Massa kembali melakukan pembakaran ban bekas, kasur, tali tambang, kayu hingga tiang lampu penerangan jalan dirusak dan dibakar. Massa juga sempat merusak satu unit mobil Damkar milik Pemkab Batang dengan nomor polisi G 9536 JC, yang akan digunakan untuk memadamkan api di perempatan Kantor Samsat Kabupaten Batang.

Keberingasan massa tidak berhenti disitu. Satu unit bus pariwisata K 1558 AW yang akan melintas dengan mengambil jalan alternatif, juga dirusak massa pendemo. Kedua mobil tersebut mengalami pecah kaca depan dan penyok bodinya karena dilempar batu.

Aksi anarkis ribuan nelayan baru berhenti tiga jam kemudian, setelah Polres Batang mengerahkan satu peleton pasukan anti huru-hara dan mendatangkan mobil water canon untuk memadamkan 5 titik kobaran api di sepanjang jalur pantura tersebut.
Polisi sempat menembakkan 5 kali tembakan gas air mata untuk membubarkan massa. Massa akhirnya membubarkan diri dengan berlari ke Desa Sigandu dan Depok, sehingga situasi dapat dikendalikan.

“Aksi pemblokiran jalan raya pantura di Batang ini, akan terus kami lakukan. Sampai Presiden Jokowi mencabut Permen KKP Nomor 2/2015 tentang larangan penggunaan pukat hela dan pukat tarik,” kata Imam Riyoni, 46, warga Kelurahan Klidang Lor.

Imam menandaskan bahwa aksi yang dilakukan secara spontan oleh ribuan nelayan, agar menjadi perhatian Pemkab Batang dan Pemerintah Pusat di Jakarta. “Ribuan nelayan dan buruh galangan kapal, sekarang tidak lagi bekerja. Kami menjadi pengangguran baru yang tidak mendapatkan perhatian dari siapa pun. Demo akan terus kami lakukan, sampai ada perubahan pencabutan SK Permen KKP 2/2015,” tandas Imam Riyoni yang dibenarkan ribuan pendemo lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Batang, Nasikhin, menyesalkan aksi unjuk rasa yang anarkis yang merusak fasilitas umum dan pemblokiran jalan nasional Pantura Batang. Menurutnya, aksi anarkis ribuan nelayan tersebut, disusupi dari pihak luar daerah.

“Saya tidak mengira, jika aksi ribuan nelayan ini akhirnya merusak faslitas umum, memblokir jalan dan merugikan banyak pihak. Menyampaikan aspirasi bisa diwakilkan, bukan dengan cara anarkis seperti ini. Ini sungguh sangat memalukan,” kata Nasikhin dengan nada emosi tinggi. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.