Bukit Gunung Kelir Kembali Longsor

394
PANTAU BENCANA : Petugas BPBD Kabupaten Semarang melakukan pengecekan lokasi longsor di Perbukitan Gunung Kelir Desa Wirogomo Kecamatan Banyubiru yang dikhawatirkan berpotensi longsor lebih besar lagi. Dikhawatirkan, bisa menimpa permukiman dua dusun di bawahnya. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
PANTAU BENCANA : Petugas BPBD Kabupaten Semarang melakukan pengecekan lokasi longsor di Perbukitan Gunung Kelir Desa Wirogomo Kecamatan Banyubiru yang dikhawatirkan berpotensi longsor lebih besar lagi. Dikhawatirkan, bisa menimpa permukiman dua dusun di bawahnya. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
PANTAU BENCANA : Petugas BPBD Kabupaten Semarang melakukan pengecekan lokasi longsor di Perbukitan Gunung Kelir Desa Wirogomo Kecamatan Banyubiru yang dikhawatirkan berpotensi longsor lebih besar lagi. Dikhawatirkan, bisa menimpa permukiman dua dusun di bawahnya. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BANYUBIRU-Tanah di Perbukitan Gunung Kelir di Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Selasa (4/3) malam kemarin kembali longsor. Trucuk bambu sebagai penahan longsor tidak lagi mampu menahan longsor yang sempat diprediksi dapat menimpa permukiman warga.

Beruntung tanah longsor seluas 5 x 30 meter itu tidak sampai menimpa rumah-rumah warga yang berada di sekitar 300 meter. Longsoran tanah hanya menimbun jalan dusun sehingga jalan tersebut saat ini tidak dapat dilalui.

Tidak hanya di Perbukitan Gunung Kelir saja, di Dusun Wirogomo Tengah juga terjadi tanah longsor di lahan milik Baidi, 40, warga RT 1 RW 6, Dusun Wirogomo Tengah. Akibat tanahnya longsor menyebabkan dapur rumahnya rusak dan sebagian tanah yang longsor menimpa rumah Aminadi, 50. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya kerugian material sebesar Rp 7 juta.

Selain itu, longsor juga terjadi di tebing tepi Jalan Dusun Wirogomo Tengah yang berakibat jalan dusun sepanjang 6 meter lebar 1 meter tertimbun tanah setebal 30 sentimeter. Longsor tersebut juga nyaris mengenai kandang sapi milik Saidin.

Kepala Desa Wirogomo, Suwignyo mengatakan bahwa ada beberapa titik peristiwa tanah longsor di Desa Wirogomo. Selain di tebing Perbukitan Gunung Kelir, longsor juga terjadi di pemukiman warga. Peristiwa longsor itu terjadi sekitar pukul 19.30. Tanah yang longsor tersebut berawal dari hujan yang sangat deras mulai pukul 16.00 hingga pukul 20.00.

“Untuk longsor di Gunung Kelir, luas tanah yang longsor 30 x 5 meter dengan ketebalan material 1 meter. Jumlah material tanahnya sekitar 20-30 kubik. Sekalipun tanah itu longsor sejauh 20-30 meter hingga trucuk bambu untuk pengamannya ikut larut, namun tidak sampai ke permukiman warga. Sedangkan tanah longsor di permukiman, kecil-kecil, mengenai jalan dan dapur rumah warga,” kata Suwignyo ditemui di lokasi kejadian.

Menurut Suwignyo, warganya sempat khawatir terjadi longsor saat curah hujan tinggi pada Selasa sore (3/3) kemarin. Sehingga warga melakukan siaga dan memantau perbukitan Gunung Kelir. Dua warga desa sempat naik ke perbukitan untuk mengecek dan diketahui ada tanda-tanda longsor. Sehingga langsung melaporkan kepada kantor desa dilanjutkan ke BPBD Kabupaten Semarang.

“Dari tahun ke tahun memang sering seperti itu. Tetapi warga tetap khawatir, karena alam tidak bisa diduga. Apalagi, warga mendengar ada longsor di Banjarnegara. Sehingga warga selalu waspada, jika hujan deras, melakukan pantauan dan bersiap-siap jika memang harus mengungsi,” kata Kades Wirogomo, Suwignyo.

Kasi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Semarang, Joner Hutajulu, bersama timnya kemarin melakukan pengecekan lokasi longsor. Hasil pengamatan di lokasi, memang telah terjadi longsor namun masih jauh dari lokasi permukiman warga. Namun demikian, pihaknya tetap mengimbau agar warga tetap waspada.

“Kondisinya masih sama seperti longsor sebelumnya yakni ada lapisan tanah yang longsor. Retakan yang dulu terbawa longsor turun 20-30 meter. Rencananya satu dua hari, kalau tanahnya sudah mulai keras akan dilakukan penanganan sehingga jalan yang tertimbun bisa dilalui. Sebenarnya kalau mau ditata sekarang bisa, tapi kami sarankan tidak dilakukan,” kata Joner.

Joner menambahkan, lokasi longsor dengan permukiman warga masih jauh yakni 300 meter. Jadi belum ada perintah pengungsian. “Hanya saja kami minta warga tetap waspada. Terutama saat curah hujan tinggi . Selain siaga warga juga kami minta bersiap-siap mengungsi jika sewaktu-waktu longsor,” tutur Joner. (tyo/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.