Sepi Tangkapan, Harga Ikan Rata-Rata Merosot

910
SEPI TANGKAPAN: Sejumlah jenis ikan seperti kakap merah, tongkol dan kerapu di pasar ikan Tambak Lorok mengalami kenaikan harga. Sementara ikan-ikan besar semacam tengiri dan laosan justru merosot. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
SEPI TANGKAPAN: Sejumlah jenis ikan seperti kakap merah, tongkol dan kerapu di pasar ikan Tambak Lorok mengalami kenaikan harga. Sementara ikan-ikan besar semacam tengiri dan laosan justru merosot. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
SEPI TANGKAPAN: Sejumlah jenis ikan seperti kakap merah, tongkol dan kerapu di pasar ikan Tambak Lorok mengalami kenaikan harga. Sementara ikan-ikan besar semacam tengiri dan laosan justru merosot. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Nelayan di Kota Semarang saat ini sedang mangalami paceklik. Selain sepi tangkapan ikan lantaran ombak laut sedang tinggi, harga rata-rata ikan laut juga tengah merosot.

Supandi, salah satu nelayan di Tambak Lorok Semarang mengaku, tingginya ombak membuat para pencari ikan enggan melaut. Kalau nekat, mereka hanya mendapatkan sekitar 50 persen dari total tangkapan di cuaca normal. “Sejak airnya jelek, tangkapannya merosot tajam. Jika biasanya saban hari bisa membawa pulang antara 30-40 kg, sekarang hanya 10-15 kg saja,” paparnya kepada Radar Semarang, kemarin.

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti soal larangan penangkapan ikan menggunakan pukat tarik tidak terlalu diambil pusing oleh para nelayan Tambak Lorok Semarang. Pasalnya, menggunakan peranti kontroversi itu atau tidak, tangkapan mereka tetap merosot. Hal itu disebabkan lantaran kondisi ombak yang belum kondusif sejak cuaca buruk, awal Februari lalu.

Beberapa ikan yang ditangkap menggunakan jaring konvensional seperti kakap, tengiri, barakuda dan laosan, memang sedang sepi. “Kalau pas ombaknya ngamuk seperti sekarang, ikan-ikan itu memang susah ditangkap. Justru udang yang sangat mudah didapat,” imbuhnya.

Meski hasil merosot, harga yang dipatok di pasaran terbilang stabil. Untuk kakap masih stagnan. Dibanderol berkisar Rp 40 ribu-Rp 43 ribu per kg tergantung ukuran. Sementara barakuda, naik Rp 5.000 per kg. “Dulu barakuda hanya dijual Rp 20 ribu. Sekarang sudah Rp 25 ribu,” papar salah satu pengepul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambak Lorok, Dalipa.

Beberapa jenis ikan lain seperti laosan, bawal putih, dan tengiri justru mengalami peurunan harga. Tengiri yang biasa laku Rp 60 ribu, sekarang hanya dipatok Rp 35 ribu per kg. Bawal putih dari Rp 140 ribu menjadi Rp 110 ribu, dan laosan dari Rp 43 ribu merosot di angka Rp 38 ribu per kg. “Tiga jenis itu yang biasanya diambil pabrik-pabrik dan rumah makan besar. Saya sendiri tidak tahu kenapa bisa ditawar murah. Padahal hasil tangkapan nelayan juga merosot,” katanya.

Sementara itu, Taliah, salah satu penghuni lapak pasar ikan Tambak Lorok menjelaskan, sejak perayaan imlek lalu, harga ikan mulai menurun hingga 30 persen. “Memang sekarang mulai naik lagi. Tapi masih lebih murah dibanding sebelum Imlek,” katanya.

Di lapak Taliah menawarkan kerpu yang dibanderol Rp 45 ribu per kg, tongkol Rp 22 ribu per kg, dan kakap merah ukuran kecil Rp 28 ribu per kg. “Biasanya nanti pas musim panen bulan April, harganya merosot lagi,” pungkasnya. (amh/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.