Modal Rp 30 Ribu, Kini Hasilkan 47 Produk Olahan Jamur

1119
SERBA JAMUR: Stand produk olahan jamur Suciati saat pameran di halaman Kecamatan Ngaliyan. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
SERBA JAMUR: Stand produk olahan jamur Suciati saat pameran di halaman Kecamatan Ngaliyan. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
SERBA JAMUR: Stand produk olahan jamur Suciati saat pameran di halaman Kecamatan Ngaliyan. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

Suciati pantas menyandang sebutan ibu rumah tangga kreatif. Keuletannya mengembangkan usaha bisnis jamur tiram putih mulai mendulang sukses. Modal awal hanya Rp 30 ribu, sekarang beromzet puluhan juta rupiah. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

BERSTATUS sebagai seorang ibu rumah tangga tak membuat Suciati, 29, miskin ide. Ia tak mau menjadi ibu rumah tangga yang hanya sekadar berkutat memasak, mengurus anak, dan malayani suami semata. Ia bahkan terus mengasah dan mengembangkan jiwa bisnisnya melalui pembibitan jamur tirang putih di rumahnya Jalan Gondosari II RT 4 RW 4 Gondoriyo, Ngaliyan, Semarang.

Keuletannya dalam menangkap peluang bisnis jamur tersebut, membuat ibu satu anak ini menjadi ibu rumah tangga yang inspiratif. Hasil kreativitasnya beberapa kali menyabet juara lomba produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Semarang. Bisnis jamur besutan tangan dingin Suciati ini juga mampu memberi lahan pekerjaan bagi sejumlah ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya.

UMKM Jamur Jaya Kelurahan Gondoriyo yang ia kelola saat ini mampu menghasilkan sebanyak 47 produk aneka makanan hasil olahan berbahan jamur tiram putih. Bahkan omzet bisnisnya itu mencapai puluhan juta rupian setiap bulannya.

Kesuksesan usaha jamur miliknya itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia telah memulai usaha bisnis jamur sejak 11 tahun silam. Berbagai macam uji coba, kegagalan, hingga nyaris putus asa, pernah dialami. Namun ia terus mencoba dan bangkit seperti saat ini. “Saya sudah mulai menekuni bisnis jamur sejak 11 tahun silam. Saat itu saya masih single,” ujar Suciati kepada Radar Semarang, Kamis (5/3) siang.

Suciati mengaku, inspirasi bisnis jamur tirang tersebut didapat saat bermain di rumah temannya di Bogor. “Saat itu, saya melihat pembibitan jamur di sana. Saya lihat kok menarik untuk dikembangkan, lalu sampai di rumah saya coba,” kenangnya.

Dia yang saat itu belum memiliki pekerjaan, tidak memiliki modal banyak untuk memulai bisnis. “Pertama kali, saya hanya bermodal uang Rp 30 ribu. Dulu hanya menggunakan sebuah drum sebagai tempat pembibitan jamur,” ceritanya.

Saat ini, ia bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kelurahan Gondoriyo memiliki 5 kelompok untuk mengembangkan budidaya jamur tersebut. “Setiap kelompok memiliki anggota 5 orang, jadi total anggotanya 25 orang. Kami mengembangkan bisnis jamur dengan sistem bagi hasil. Selain itu juga Posdaya dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar sebagai tenaga produksi,” katanya.

Dijelaskannya, bisnis jamur tersebut dilakukan mulai dari proses pembibitan atau produksi pohon jamur, bisnis jamu segar, hingga produk pengolahan jamur menjadi produk kuliner. “Kami memanfaatkan lahan kosong yang tidak terpakai sebagai kumbung jamur. Tempat pembibitan jamur menggunakan ruang tertutup. Sebab, butuh suhu antara 23-28 derajat celcius kelembaban tanah untuk pembibitan jamur,” terangnya.

Kumbung jamur berukuran 5 x 10 meter persegi bisa menghasilkan sedikitnya 8 ribu baglog atau media tanam yang terbuat dari plastik. “Jamur itu bisa dipanen setiap hari. Paling sedikit kurang lebih 50 kg per hari. Di tempat kami, serbuknya menggunakan karet untuk menambah kesuburan. Memang lebih mahal harganya,” katanya.

Omzet bisnis jamur tirang putih tersebut, Suciati mengatakan ada tiga jenis klasifikasi. Untuk klasifikasi produksi pohon jamur beromzet Rp 10 juta per bulan, untuk klasifikasi jamur segarnya Rp 5 juta per bulan. Sedangkan untuk klasifikasi produk olahan jamur Rp 8,5 juta. “Itu omzet kotor lho,” kata lulusan SMA Nusa Bhakti Semarang 2004 ini.

Untuk klasifikasi produk olahan jamur, saat ini memiliki sebanyak 47 produk. Di antaranya, sate jamur tiram putih, burger tiram, nugget tiram, bakso tiram, siomay tiram, mie ayam tiram, ekado dan masih banyak produk yang lain. “Belakangan kami me-launching dawet jamur tirang yang dikombinasikan dengan tepung ganyong. Baru pencanangan 2015 ini, langsung diterima masyarakat,” ujarnya.

Soal pemasarannya, Suciati menjelaskan, selain dipasarkan sendiri juga dibantu melalui asosiasi di tingkat provinsi. “Kami menyuplai di sejumlah toko, restoran, kafe, warung krispi, bakuk sayuran, pedagang pasar, baik dalam kota maupun luar kota. Bahkan dipesan dari Sumatera dan Bali dengan dikirim melalui jasa paket,” katanya.

Untuk karyawan pengelola, sejauh ini masih dikelola oleh keluarga. Pihaknya melibatkan tenaga dalam hal produksi. “Kami juga butuh kepercayaan, jadi tidak bisa sembarangan untuk memberikan tanggung jawab kepada orang belum diketahui kapasitasnya. Sejauh ini masih keluarga,” imbuh Suciati.

UMKM besutan Suciati ini berkali kali menyabet juara I terkait pengembangan UMKM di tingkat Kota Semarang. Di antaranya, saat event Pasar Rakyat 2014 antar kecamatan se Kota Semarang, dan pada 2013 dalam ajang yang sama di Ngaliyan masuk 3 besar.

Terakhir, hasil kreativitas Suciati dipamerkan dalam Festival dan Expo Posdaya Ngaliyan 2015 yang dihelat oleh KKN Universitas PGRI Semarang di halaman Kantor Kecamatan Ngaliyan, Minggu (1/3) lalu. “Barusan juga menerima kabar, dapat juara 1 UMKM tingkat Kota Semarang 2015, dan akan mewakili ke tingkat Jateng,” ujar Suciati bangga.

Sejak memulai budidaya jamur tersebut, hambatan dan tantangan tetap ada. Bahkan Suciati mengaku nyaris putus asa dan ngedrop. “Pada 2012 lalu ada musibah, karena ditinggal suami meninggal. Semangat budidaya jamur sempat ngedrop. Namun perlahan, saya berusaha bangkit. Saat ini sudah punya suami lagi, dan dikaruniai satu anak berusia 1 tahun 3 bulan,” pungkasnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.