Hujan, Pentas Liong Dihentikan

442
DIGUYUR HUJAN : Ritual di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan para perayaan Cap Go Meh Kamis (5/3) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
DIGUYUR HUJAN : Ritual di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan para perayaan Cap Go Meh Kamis (5/3) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
DIGUYUR HUJAN : Ritual di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan para perayaan Cap Go Meh Kamis (5/3) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID – Kemeriahan perayaan Cap Go Meh di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong Muntilan, Kabupaten Magelang cukup terasa. Budaya khas Tionghoa yang kental juga ditampilkan yakni liong samsi Kamis, (5/3) malam lalu.

Penonton memadati halaman kelenteng yang memiliki gapura setinggi 14,6 meter dibangun pada tahun 2007 sejak pukul 18.00 sore. Namun, belum usai, hujan telah mengguyur Kota Muntilan cukup lama. Demi keamanan para pemain, dan ketahanan alat, penampilan itu dihentikan.

“Berhenti dulu, nanti setelah sembahyang kalau tidak hujan dimulai lagi, pemainnya sedang istirahat,” kata Sekretaris Yayasan TITD Hok An Kiong Muntilan, Hing Hartanto, kemarin malam.

Acara yang cukup menghibur tersebut, tetap ditunggu oleh para penonton yang berdatangan dari beberapa desa di seputaran Muntilan. Seperti Barid Baroroh, 42, warga Ngadiretno, Kecamatan Muntilan mengaku ingin melihat pertunjukan barongsai hingga selesai.

“Sebenarnya sudah pingin pulang, tapi anak saya belum mau pulang karena nunggu acaranya sampai selesai. Katanya mau dilanjutkan lagi sampai pukul 21.00,” katanya sambil berteduh di bawah gapura kelenteng.

Kelenteng akan melanjutkan ritual Hari Raya Djay Sen Ya pada 16 Maret. Adapun acara ci swak atau ritual tolak bala diagendakan 29 Maret mendatang.

Terpisah di kelenteng Liong Hok Bio Kota Magelang pada Kamis malam, digelar kirab budaya menampilkan berbagai kesenian tradisional. Melibatkan 17 kelompok seni. Seperti jatilan, topeng ireng, dan reog.

Ketua Umum Yayasan Tri Bhakti Kota Magelang Paul Chandra Wesi Aji mengatakan, penampilan kesenian tradisional dalam perayaan Cap Go Meh sudah rutin setiap tahun.

”Keterlibatan kesenian tradisional dalam tradisi perayaan Cap Go Meh merupakan bukti nyata bahwa budaya Tionghoa dan budaya Jawa yang menjadi daerah tempat tinggal kami telah melebur satu sama lain sejak ratusan tahun lalu,” ujarnya.
Kaum Muda TITD) Liong Hok Bio di Kota Magelang, Agus Setiawan mengatakan perayaan Cap Go Meh tahun 2015 ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Jika tahu sebelumnya kirab hanya dilakukan siang hari, untuk tahun ini ada kirab budaya di malam hari. “Juga ada pesta kembang api, mudah-mudahan bisa kita langgengkan untuk gelaran Cap Go Meh mendatang,” harapnya sembari menjelaskan kirab malam tersebut sebagai puncak Cap Go Meh.

Kelompok kesenian yang tampil tidak hanya dari Magelang saja, tetapi ada yang dari Wonosobo. Sementara itu, Ketua Harian TITD Liong Hok Bio, Soek Lie mengaku gembira dan puas atas terselenggaranya rangkaian Cap Go Meh tahun 2015 ini. (put/mg2/lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.