Jembatan Gagal Dibangun, Warga Kecewa

705
GAGAL : Kondisi Jembatan Kupang di Desa Pandansari, Batang, gagal dibangun secara permanen. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
GAGAL : Kondisi Jembatan Kupang di Desa Pandansari, Batang, gagal dibangun secara permanen. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
GAGAL : Kondisi Jembatan Kupang di Desa Pandansari, Batang, gagal dibangun secara permanen. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG–Ratusan warga Desa Pandansari, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jum’at (6/3) siang kemarin, meluapkan kekecewaannya. Pasalnya, rencana pembangunan Jembatan Kupang secara permanen yang melintang di atas Sungai Kupang menghubungkan dua Kabupaten Batang dan Pekalongan, gagal dilakukan.

Jembatan Kupang yang dibuat dari papan dan bambu kayu, saat ini sangat membahayakan pengguna jembatan. Disamping posisi pondasi jembatan yang telah bergeser karena tergerus arus sungai, kayu papan dan bambu yang digunakan untuk jembatan juga sudah lapuk karena dimakan usia. Jembatan tersebut sudah berumur lebih dari 15 tahun.

Gagalnya pembangunan Jembatan Kupang tersebut, bermula dari gagalnya pembebasan tanah yang terletak di Desa/Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan yang dimiliki oleh Muhamad Adimulyo, 52, dan Mutiah, 41, keduanya warga Desa Karangdadap. Lantaran keduanya bersikukuh meminta harga Rp 300 ribu per meter. Sedangkan harga yang ditetapkan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) wilayah sekitar adalah Rp 150 ribu per meter. Meski negosasi telah dilakukan berulang kali, namun pembebasan lahan tersebut sulit dilakukan dan gagal.

“Awalnya memang sepakat dengan harga pasaran. Namun pertemuan terakhir malah tidak jadi, karena dari perwakilan DPU tetap dengan harga Rp 150 ribu/ meter. Padahal petugas DPU sempat mengaku bahwa anggaran pembebasan lahan sekitar Rp 50 juta,” terang Adimulyo.

Lahan seluas 138 meter persegi akan dijadikan sebagai jalan tembus, sehingga Jembatan Kupang yang menghubungkan Desa Pandansari,Warungasem, Batang dengan Desa Karangdadap, Pekalongan, dapat dilalui kendaraan roda empat.

Karena jembatan tersebut akan dibuat secara permanen, Pemkab Batang dan Pemkab Pekalongan, serta Pemprov Jateng sudah mengalokasi dana APBD I dan II, untuk pembangunan jembatan tersebut. Rencananya, pembangunan jembatan akan dilaksanakan 2015 dengan anggaran APBD Kabupaten Pekalongan, Batang dan Provinsi Jateng. Diperkirakan menelan dana miliaran rupiah.

“Kami warga Desa Pandansari sangat kecewa. Hanya karena egoisme dua warga pemilik lahan, rencana pembangunan Jembatan Kupang secara permanen gagal dilakukan,” keluh Supardi, 42, warga Desa Pandansari, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang.

Sementara itu, Kepala Desa Pandansari,Warugasem, Kabupaten Batang, Haryadi, menyesalkan gagalnya pembebasan lahan warga di Desa Karangdadap. Padahal, dengan adanya jembatan tersebut secara permanen, maka jarak antara Batang ke Pekalongan menjadi dekat.

“Kalau Jembatan Kupang dibangun permanen, perkampungan menjadi ramai dan hidup, karena banyak masyarakat dari Kabupaten Pekalongan bahkan Pemalang yang akan jualan lewat jembatan ini menuju Batang,” tegas Yadi. (thd/ida)
Pemerintah Sudah Alokasikan Anggaran Besar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.