Penggunaan Gadget Marak, Buku Tetap Laris

370
MASIH DICARI : Pengunjung memilih buku di Toko Buku Gunung Agung Mal Ciputra, kemarin. (Joko Susanto/radar semarang)
MASIH DICARI : Pengunjung memilih buku di Toko Buku Gunung Agung Mal Ciputra, kemarin. (Joko Susanto/radar semarang)
MASIH DICARI : Pengunjung memilih buku di Toko Buku Gunung Agung Mal Ciputra, kemarin. (Joko Susanto/radar semarang)

SEMARANG – Maraknya penggunaan gadget tak membuat toko buku surut dalam menyediakan buku bagi konsumen. Gadget yang dianggap mempermudah pencarian berita atau berkas ini ternyata tak selamanya dimanfaatkan masyarakat. Bahkan diantara mereka masih tetap bertahan menggunakan buku yang dianggap lebih memberikan isi bacaan yang lengkap.

Seperti diutarakan, Rizki Kusuma Ninghayu, mahasiswi Unwahas Semarang. Ia jauh lebih minat membaca buku daripada mencari berkas melalui gadget.

“Buku itu lebih lengkap menurut saya, selain itu kalau membaca buku lebih menyimpan memori yang baik dan itu selalu terkenang di pikiran kita. Kalau gadget memang lebih mudah tapi kalau keseringan dampaknya buruk di mata belum lagi kebanyakan sumber tak jelas,”sebutnya.

Rizki mengaku buku begitu berarti baginya, apalagi di masa pembuatan skripsi seperti yang sedang dilakukannya. “Dari awal kuliah saya suka membaca buku, apalagi menjelang skripsi buku menjadi idola saya, bagiku gadget hanya pelengkap bermain media sosial,” ujar gadis cantik itu.

Karyawan sebuah dealer motor, Teguh Susanto mengatakan, gadget memang diakuinya sangat penting, namun ia mengaku buku jauh lebih penting. “Gadget memang penting karena akses berita mudah dicari akan tetapi sumbernya kadang sulit dipertanggungjawabkan. Hal itu berbeda dengan buku yang sudah jelas penerbitnya, pengarangnya dan isi bukunya jauh lebih lengkap,” kata pria pemilik gadget merk Samsung ini.

Teguh mengakui bahwa saat ini gadget lebih banyak digunakan dari pada melihat buku. “Saya akui saat-saat ini memang jauh lebih banyak menggunakan gadget dalam mencari informasi daripada membaca buku. Dari pengamatan saya, buku itu lebih banyak dicari hanya ketika Tugas Akhir dan Skripsi, selebihnya pengunjung cuma mencari buku novel,” jelasnya.

Atas adanya gadget tersebut tak membuat Toko Buku Gunung Agung menciut nyalinya menghadapi pangsa pasar. Store Manager Toko Buku Gunung Agung Semarang, Dede Sunendar mengatakan gadget belum begitu berperan. “Untuk itu kami masih berani bahkan sekarang kami lagi mencari buku-buku impor yang isinya berbahasa Inggis,” kata Dede.

Dia mengatakan, pihaknya dalam setiap bulan menerima 300-500 judul buku baru. “Nah kalau di tempat kami paling banyak diminati buku novel, sekarang kami juga lagi melakukan pengembangan buku-buku impor,” ungkapnya. (mg21/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.