Empat Ahli Tangani Candi Losari

443
BAHAYA : Candi Losari masih terpendam air dari mata air dan hujan. Kondisi ini akan segera ditangani supaya tidak terjadi pelapukan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
BAHAYA : Candi Losari masih terpendam air dari mata air dan hujan. Kondisi ini akan segera ditangani supaya tidak terjadi pelapukan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
BAHAYA : Candi Losari masih terpendam air dari mata air dan hujan. Kondisi ini akan segera ditangani supaya tidak terjadi pelapukan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Candi Losari di Desa Salam Kecamatan Salam Kabupaten Magelang yang tenggelam bakal segera ditangani oleh tim ahli dari berbagai disiplin ilmu. Dengan penanganan secara koletif diharapkan bangunan cagar budaya itu bisa diselamatkan.

Ketua tim kajian Candi Losari dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Septina Wardani menjelaskan, ada empat ahli yang akan diterjunkan untuk menyelamatkan bangunan cagar budaya ini. Dua orang diantaranya ahli di bidang teknik sipil, seorang geolog dan satu lagi arkeolog. “Dengan para ahli, kami masih perlu mendiskusikan banyak hal termasuk diantaranya tentang teknik pembuangan air yang kini merendam candi,” ujar dia, kemarin.

Sebelumnya, selama 24 Februari hingga 1 Maret lalu, tim kajian dari BPCB Jawa Tengah telah melakukan observasi dan pengambilan data-data lapangan terkait kondisi terkini Candi Losari. Sekitar satu tahun terakhir, Candi Losari terendam air setinggi dua hingga tiga meter. Air berasal dari rembesan air di sepanjang sisi utara candi. Hal ini membuat setiap wisatawan yang datang berkunjung tidak bisa melihat dengan jelas bentuk utuh candi.

Septina mengakui, kondisi air yang merendam candi dalam jangka waktu lama, dikhawatirkan akan berdampak buruk pada batuan. Hal itu nantinya juga akan dibicarakan dengan ahli geologi.

Air juga menjadi kendala dalam konservasi Candi Borobudur. Terkait hal itu, setiap tahun, Balai Konservasi Borobudur (BKB) akan melakukan kegiatan perbaikan dan pemantauan kebocoran pada bidang-bidang batu candi. “Di musim penghujan seperti sekarang, kami selalu memantau apakah air yang ada di batu candi berasal dari siraman air hujan ataukah karena ada kebocoran di sekitar batuan dan saluran drainasenya,” ujar Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan BKB Yudi Suhartono.

Tahun ini, BKB akan menangani kebocoran di 12 titik di lorong di sisi utara dan timur candi. Upaya perbaikan akan dilakukan dengan terlebih dahulu meneliti, membongkar batuan, kemudian memasang lapisan kedap air.

Kebocoran, menurut Yudi, perlu segera ditangani karena hal itu berpotensi merusak, mempercepat pelapukan batuan. Rembesan air juga berpotensi menimbulkan terjadinya penggaraman, di mana terlihat dengan munculnya bercak putih pada batuan. “Penggaraman seringkali juga menjadi hal yang sangat mengganggu karena mengaburkan relief pada bagian dinding candi,” kata dia. (vie/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.