Inovasi Warga Pekalongan, Hemat Gas 30 Persen

957
TUNJUKKAN KOMPOR DINGIN : Purwanto saat mencoba memanaskan tungku dengan kompor dingin hasil karyanya. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
TUNJUKKAN KOMPOR DINGIN : Purwanto saat mencoba memanaskan tungku dengan kompor dingin hasil karyanya. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
TUNJUKKAN KOMPOR DINGIN : Purwanto saat mencoba memanaskan tungku dengan kompor dingin hasil karyanya. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

Meski mengeluarkan hawa dingin, kompor ciptaan Purwanto, warga Kecamatan Pekalongan Utara Kabupaten Pekalongan ini justru mampu menyuplai panas lebih maksimal dibandingkan kompor biasa. Bukan hanya itu, inovasi bernama kompor dingin dan tungku kalongan itu juga dapat menghemat penggunaan gas sebanyak 30 persen. Seperti apa?

FAIZ URHANUL HILAL

GAMBARAN awal tentang kompor gas sebagaimana biasa ditemui di pasaran seketika buyar ketika Radar Semarang mengunjungi sebuah rumah di Perum Medono Indah RT 2 RW 10 Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, beberapa waktu lalu.

Tidak seperti kompor pada umumnya. Kompor buatan Purwanto tersebut hanya berbentuk sebuah ‎pipa dari bahan logam berwarna perak. Selain bentuknya yang aneh, kompor dingin tersebut memang benar-benar tidak panas. Bahkan, untuk membuktikan, Purwanto langsung menjulurkan lidahnya dan menjilat ujung pipa yang sebelumnya menyemburkan api selama 15 menit. “Nih, tidak panas, kalau mau coba silahkan,” kata dia sembari menyodorkan kompor dingin.

Di dalam tabung, kata Purwanto, terdapat cairan liquefied petroleum gas (elpiji) yang berasa dingin. Hal itu yang membuat kompor tersebut tidak panas sama sekali, dengan catatan saat digunakan tabung elpiji dimiringkan.

Untuk menghasilkan panas maksimal, pemilik CV Rekasaranan Gasindo tersebut memaparkan bahwa pipa perak tersebut digunakan sebagai media untuk menyemprotkan api ke tungku berbahan dasar tanah. “Pertama kali saya percobaan, panasnya tidak bisa maksimal. Akhirnya dibutuhkan penghantar lain untuk menyemprotkan gas yang keluar,” jelasnya.

Tungku dari tanah, seperti batu bata dan genteng akan menghasilkan api lebih panas. ‎Oleh karena itu, kompor dingin tersebut lebih panas dibandingkan kompor pada umumnya. Karena tungku kalongan yang digunakan memanfaatkan bara sebagai sumber panasnya.

“Sumber panas bukan api, karena panas yang dihasilkan dari bara lebih baik dibandingkan api. Saat saya ujicoba, tungku itu tidak mengeluarkan api, justru bara dari tanah yang terlihat. Kalau kompor masih menyala dan apinya kelihatan itu justru tidak bagus. Tapi kalau baranya yang menyala terang, pasti panasnya maksimal,” jelasnya.

Mantan pengusaha minyak tanah yang pernah bangkrut tersebut memaparkan, sempat mengalami kesulitan ketika menciptakan kompor dingin dengan komposisi yang tepat. Namun berkat ketekunannya, kompor dingin berdaya panas maksimal akhirnya tercipta. Selain ramah lingkungan, kompor dingin juga hemat gas sekitar 30 persen.

“Kompor ini sangat ramah lingkungan. Saya menjamin ada penghematan hingga 30 persen, karena gas yang keluar hanya untuk memanaskan bara. Kalau ada apinya pasti lebih boros,” ujar nya. ‎

Purwanto mengatakan bahwa sudah banyak industri yang menerapkan teknologi tersebut. Mulai dari industri batik, pengolahan kedelai, rumah makan dan lainnya. Bahkan ratusan kompor dingin itu telah laku terjual ke sejumlah lokasi di Indonesia. Di antaranya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Pemasangannya sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu lama. Terakhir saya pasang di Lombok untuk rumah makan,” imbuhnya.

Inovasi tersebut juga telah mempunyai hak paten sejak 2010. Bagi para pemakai alat tersebut, terdapat garansi seumur hidup serta jika rusak langsung diganti dengan yang baru. “Kompor dingin ini lebih cocok digunakan untuk industri. Sebab, jika digunakan untuk rumah tangga, efisiensi gas tidak terlalu kelihatan,” timpalnya.

Apa yang dilakukan Purwanto, merupakan salah satu upaya untuk penghematan energi. Dia berharap, pemerintah juga lebih memperhatikan inovasi masyarakat tersebut. “Penghematan energi itu sudah banyak dilakukan. Pemerintah yang punya peran penting untuk menyosialisasikannya,” ungkapnya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.