Jalur Tawang – Pelabuhan Segera Dibangun

343
GANTI RUGI : Salah satu warga menandatangi surat perjanjian ganti rugi di Stasiun Tawang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
GANTI RUGI : Salah satu warga menandatangi surat perjanjian ganti rugi di Stasiun Tawang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
GANTI RUGI : Salah satu warga menandatangi surat perjanjian ganti rugi di Stasiun Tawang, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tahun 2015 ini, PT Kereta Api Indonesi (KAI) akan membangun dua proyek yakni reaktivasi jalur kereta api Semarang Tawang – Pelabuhan Tanjung Emas guna mendukung transportasi barang keluar daerah. Selain itu PT KAI juga berencana membangun lahan peti kemas atau dry port yang luasnya 5 hektare di Kelurahan Tanjung Emas.

Manager Humas Daop 4 PT KAI, Suprapto mengatakan jika saat ini reaktivasi pembangunan jalur Tawang – Tanjung Emas adalah program kerjasama antara Dirjen KA, Dirjen Kelautan, Pelindo III, Pemprov Jateng dan PT KAI yang saat ini sudah disetujui awal Februari lalu. “Untuk proyek pertama ini masih dalam pengkajian dan pendataan berupa lahan atau rumah warga yang terkena dampak,” katanya.

Sementara lahan peti kemas atau dry port yang dibangun sebagai pendukung untuk reaktivasi jalur KA Tawang – Pelabuhan saat ini masuk dalam tahap pembebasan lahan. Pasalnya, lahan yang merupakan aset milik PT KAI itu digunakan oleh sejumlah warga untuk mendirikan rumah atau bangunan semi permanen maupun permanen. “Ada 17 kepala keluarga di RT 7 RW 11 yang harus direlokasi lantaran menggunakan tanah milik PT KAI, kita hari ini (kemarin,red) mengumpulkan mereka untuk membayarkan uang ganti rugi untuk pembongkaran bangunan,” tandasnya.

Menurut dirinya ganti rugi tersebut hanya sebatas uang biaya pembongkaran. Hal ini sesuai dengan SOP yang dimiliki PT KAI. Besarnya uang pembongkaran bangunan sendiri sebesar Rp 250 ribu per meter persegi untuk bangunan permanen dan Rp 200 ribu untuk bangunan semi permanen. “Targetnya bulan Juni ini bisa segera clear dan dibangun. Ganti rugi pembongkaran dilakukan secara langsung dengan mengumpulkan warga yang terkena dampak untuk membuat surat pernyataan. Uang ganti rugi diberikan dengan cara transfer ke bank yang langsung dibuatkan oleh pihak bank yang kami gandeng,” lanjutnya.

Cara tersebut dianggap lebih transparan dibandingkan memberikan uang secara tunai yang dikhawatirkan bisa diselewengkan oleh oknum tertentu. “Dua minggu setelah membuat surat penyataan dan rekening bank, uang akan langsung dibayarkan,” ujarnya.

Dengan adanya pembangunan rel menuju pelabuhan sepanjang kurang lebih 3 kilometer akan mengurangi beban jalan raya khususnya angkutan khusus barang, dan lebih menghemat waktu serta biaya sekitar 30 persen. “Perlawanan dari warga tetap ada, tapi kita tetap melakukan dialog dan pendekatan. Kalau memang belum nurut ya kita tempuh jalur hukum,” tegasnya.

Sementara itu, Endang Andayani, 41 ,salah satu warga yang harus direlokasi mengeluhkan terlalu cepatnya proses pembebasan lahan yang dilakukan PT KAI. Bahkan warga yang tinggal sejak tahun 1994 ini mengaku belum akan pindah lantaran belum menemukan lahan pengganti untuk pindah. “Terlalu cepat sosialisasinya. Harusnya dikasih waktu dulu untuk mencari lahan baru, saat ini saya sudah nggak punya uang,” keluhnya. (den/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.