Kawal Pupuk Hingga Petani

373
PANEN JAGUNG : Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama, Kolonel Kav Bueng Wardadi di sela-sela panen jagung, Senin (9/3) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PANEN JAGUNG : Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama, Kolonel Kav Bueng Wardadi di sela-sela panen jagung, Senin (9/3) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PANEN JAGUNG : Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama, Kolonel Kav Bueng Wardadi di sela-sela panen jagung, Senin (9/3) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TENGARAN–Ratusan Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah Korem 073/Makutarama, dikerahkan untuk mengawasi dan melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani, terutama dalam hal distribusi pupuk. Menyusul banyaknya keluhan petani terkait keterlambatan dan penyalahgunaan distribusi pupuk.

“Kami terus meningkatkan dan mengawal distribusi pupuk dari pabrik sampai ke petani. Harapannya agar pemerintah bisa terbantu dalam menanggulangi perbuatan nakal para pengoplos pupuk,” kata Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama, Kolonel Kav Bueng Wardadi, di sela-sela panen jagung, Senin (9/3) kemarin.

Menurutnya, salah satu indikasi menjamurnya produk pupuk oplosan adalah karena keterlambatan distribudi pupuk di lapangan. Akibatnya, petani terpaksa membeli pupuk dengan harga yang lebih murah.

“Dengan adanya penemuan kasus pupuk di Demak, Purwodadi dan Semarang beberapa waktu terakhir, kami telah mengerahkan ratusan Babinsa untuk mengawasi dan melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani. Hal ini dilakukan agar pemerintah terbantu dalam menanggulangi perbuatan nakal para pengoplos pupuk,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Danrem Bueng, mengajak petani agar bekerjasama dalam menggarap lahan tidur milik Korem 073. Harapannya, bisa menambah produksi pangan di Jawa Tengah. Tapi harus disiplin dan bertanggung jawab dalam mengelola lahan.

Sementara itu, terkait panen raya di lahan seluas 3 hektare milik TNI AD di area Lapangan Tembak, Desa Kembangsari, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, ditargetkan mendapatkan hasil jagung 8 ton sampai 9 ton tiap hektare. Sehingga bisa menjadi percontoh bagi para petani. “Ini merupakan panen kedua kalinya. Tahun lalu, kami juga telah panen,” papar Danrem.

Terpisah, Sukardi, mitra kerja Korem 073/ Makutarama selaku pihak yang ditunjuk mengelola kebun Lapangan Tembak Kembangsari Korem 073/ Makutarama mengatakan pengaruh curah hujan yang tinggi, membuat produksi jagung kurang maksimal.
“Untuk tanaman pangan seperti padi dan jagung berkurang, karena tanah terlalu basah dan lembab. Sehingga pembakaran yang seharusnya dibantu oleh matahari, sangat kurang,” terang Sukardi. (abd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.