Kejaksaan Tinggi dan PLN Diusir Warga

362
BEREMBUG : Tim sosialisasi saat menyampaikan UU Nomor 2 tahun 2012 tentang pembebasan lahan untuk kepentingan umum di Desa Tegalsari, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
BEREMBUG : Tim sosialisasi saat menyampaikan UU Nomor 2 tahun 2012 tentang pembebasan lahan untuk kepentingan umum di Desa Tegalsari, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
BEREMBUG : Tim sosialisasi saat menyampaikan UU Nomor 2 tahun 2012 tentang pembebasan lahan untuk kepentingan umum di Desa Tegalsari, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Tim sosialisasi UU Nomor 2 tahun 2012 tentang pembebasan lahan untuk kepentingan umum pada proyek pembangunan PLTU Kabupaten Batang, kembali menuai perlawanan warga. Bahkan, warga tiga desa, yakni Desa Ujungnegoro, Ponowareng dan Karanggenang, mengusir tim sosialisasi.

Kejadian itu bermula saat tim sosialisasi UU 2/2012 yang terdiri atas pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng dan pihak PLN datang ke Desa Ponowareng dengan maksud melakukan sosialisasi tentang pembebasan lahan pada warga desa yang lahannya belum dibebaskan.

Saat tim sosialiasai sampai di Kantor Balaidesa Ponowareng, pihak Kepala Desa (Kades) Ponowareng, Dasarani, sudah menyarankan agar tim sosialisasi tidak mendatangi rumah warganya. Namun saran kades tidak dihiraukan dan tetap mendatangi salah satu rumah warga atas nama Ponany. Yakni, pemilik lahan yang tidak mau melepas lahannya, untuk digunakan sebagai proyek PLTU.

Warga yang semula sudah menunggu kedatangan tim sosialisasi tersebut, langsung mengusir tim sosialisasi tepat saat memasuki rumah Ponany. Meski sempat terjadi adu mulut antara warga desa dengan tim sosialisasi, namun tidak terjadi tindak kekerasan. Tim sosialisasi akhirnya pulang dan meninggalkan Desa Ponowareng.

Tim sosialisasi dari Kejati Jateng, Sutatin, saat tiba di Desa Tegalsari, Senin (9/3) siang kemarin, membenarkan bahwa dirinya bersama dengan tim sosialisasi UU 2/2012, diusir warga. “Kami tidak akan melaporkan kejadian ini ke Polres Batang. Karena kami melihat, warga hanya belum paham tentang manfaat proyek PLTU. Perlu adanya pemahaman untuk lebih memintarkan warga, agar sadar akan kepentingan yang lebih besar lagi,” ungkap Tatin secara bijak.

Kepala Desa Ponowareng, Kecamatan Tulis, Darsani, membenarkan bahwa warga desanya melakukan pengusiran terhadap tim sosialisasi. Menurutnya hal itu dilakukan karena ada 24 warga desa pemilik lahan yang tidak mau melepaskan lahannya dengan harga berapa pun. “24 warga pemilik lahan ini, tidak bersedia menjual lahannya. Jadi ketika tim sosialisasi datang ke rumah salah satu warga pemilik lahan, dia marah dan menolak tim tersebut,” kata Darsani.

Darsani juga mengatakan, meski demikian ada dua warga desanya pemilik lahan yang bersedia menjual lahannya dengan harga tinggi yakni Rp 2 juta per meter lahannya. Adapun kedua warga tersebut, adalah Ratno, 38, memiliki lahan seluas 5700 meter, dan Sa’amah, 51, dengan luas lahan 1704 meter. “Ratno dan Sa’amah yang sudah menawarkan lahannya pada PLN dengan harga Rp 2 juta per meter. Warga lainnya masih menutup diri,” tandas Darsani. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.