Mahasiswa Asing Kunjungi Kampung Buruh Migran

500
BERSAHABAT: Mahasiswa dari 20 negara berkunjung ke rumah dinas Bupati Abdul Kholiq Arif, berdiskusi seputar perlindungan TKI. Selain itu, mahasiswa juga melihat koleksi warisan budaya keris. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
BERSAHABAT: Mahasiswa dari 20 negara berkunjung ke rumah dinas Bupati Abdul Kholiq Arif, berdiskusi seputar perlindungan TKI. Selain itu, mahasiswa juga melihat koleksi warisan budaya keris. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
BERSAHABAT: Mahasiswa dari 20 negara berkunjung ke rumah dinas Bupati Abdul Kholiq Arif, berdiskusi seputar perlindungan TKI. Selain itu, mahasiswa juga melihat koleksi warisan budaya keris. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO– Mahasiswa dari 20 negara asing kemarin berkunjung ke Wonosobo. Selama lima hari, mereka melakukan studi di kampung buruh migran, Dusun Jojogan, Desa Tracap, Kecamatan Kaliwiro.

Mereka tercatat sebagai mahasiswa yang tengah belajar di Li Pho Chun United World Collage of Hongkong. Kedatangan para mahasiswa asing ke Wonosobo, untuk melihat secara langsung kondisi kampung para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Mereka tak canggung berdiskusi dengan para mantan buruh migran. Juga melihat koperasi buruh migran dan melihat kondisi anak-anak di PAUD yang ditinggalkan orang tuanya bekerja ke luar negeri.

Tak hanya itu. Para mahasiswa juga berdiskusi dengan Bupati Kholiq Arif, untuk mengorek perlindungan TKI asal kota dingin itu.

Dalam sesi diskusi dengan Bupati Kholiq Arif dan Ketua PKK Ny Aina Liza di Pendopo Selomanik pada Senin (10/3) malam, sejumlah mahasiswa menanyakan peran pemerintah dalam melindungi buruh migran.

Estefani, seorang mahasiswa asing, misalnya, menanyakan upaya Pemkab dalam melindungi TKI. Utamanya, terkait proses rekrutmen, memastikan perusahaan jasa TKI, hingga peran Pemkab saat ada TKI mendapatkan masalah. “Peran pemerintah kabupaten seperti apa?” kata Estefani yang mahir berbahasa Indonesia.

Bupati Kholiq pun menjelaskan, Pemkab terus berupaya melindungi warganya yang menjadi TKI. Salah satu upayanya, menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perlindungan TKI. Saat ini, Raperda yang dimaksud, masih dalam bentuk rancangan. Pemkab bekerjasama dengan SBMI dan Migran Care. “Regulasi ini bagian dari cara pemerintah melindungi TKI,” kata Kholiq.

Bupati Kholiq menjelaskan, penyusunan Raperda tersebut melibatkan banyak pihak. Mulai mantan TKI, perwakilan kepala desa yang warganya paling banyak jadi TKI, RT, RW, PJTKI, serta LSM yang bergerak dalam perlindungan TKI. “Raperda nantinya akan mengatur proses rekrutmen, pelatihan keterampilan, pengiriman hingga penempatan,” katanya.

Dengan melibatkan semua unsur, Kholiq berharap, Pemkab mampu mengidentifikasi masalah yang selama ini dihadapi oleh TKI. Dikatakan, masalah yang dihadapi TKI, tidak hanya saat di lokasi kerja. Keluarga yang ditinggal juga mengalami masalah. Sebab, tak jarang justru sepulang menjadi TKI, mereka tak punya tabungan atau jenis usaha.

“Untuk itu, pemerintah juga perlu hadir melatih kewirausahaan bekerjasama dengan SBMI, Migran care, sehingga usai pulang, mantan TKI bisa mandiri di kampungnya,” katanya.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Wonosobo Maiziadah Salas mengatakan, mahasiswa perguruan tinggi di Hongkong melakukan studi di Wonosobo, karena mengetahui tentang adanya kampung buruh migran dari media internasional.

“Para mahasiswa ini merupakan mahasiswa beasiswa terbaik dari negaranya masing-masing. Kelak, kalau mereka menjadi pemimpin di negaranya, setidaknya memiliki bekal tentang nasib TKI dan ini perlu dilakukan terus dengan perguruan tinggi lainnya,” katanya. (ali/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.