Trans Studio Tak Gusur Seniman

393
TEGANG: Pertemuan Wali Kota Hendrar Prihadi dengan para seniman di TBRS tadi malam (10/3). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TEGANG: Pertemuan Wali Kota Hendrar Prihadi dengan para seniman di TBRS tadi malam (10/3). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TEGANG: Pertemuan Wali Kota Hendrar Prihadi dengan para seniman di TBRS tadi malam (10/3). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TEGALSARI – Pemkot Semarang terus berupaya menyosialisasikan dan memberi pemahaman kepada masyarakat terkait rencana pembangunan wahana rekreasi Trans Studio Semarang. Diharapkan masyarakat bisa mendukung pembangunan Trans Studio demi kemajuan Kota Semarang. Termasuk para seniman. Karena pemkot tetap akan memberikan ruang dan wadah bagi para seniman untuk terus berkarya.

Seperti diketahui, Pemkot Semarang dan PT Trans Ritel Property telah melakukan penandatanganan MoU terkait pembangunan Trans Studio di atas aset pemkot yang sekarang ditempati Wonderia. Namun rencana tersebut tidak mendapat dukungan dari sejumlah seniman Kota Semarang yang berpikir, pembangunan Trans Studio akan berdampak terhadap tergusurnya gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Mengingat lahan Wonderia ini bersebelahan dengan TBRS, dimungkinkan juga akan terkena dampak pembangunan Trans Studio. Hanya saja, selama ini rencana pembangunan belum sejauh itu, masih sebatas MoU.

”Problemnya adalah saat ini ada sekelompok orang yang meyakini bahwa TBRS akan digusur, padahal tidak seperti itu, ini kan baru langkah awal setelah perjalanan yang sangat panjang kita melakukan komunikasi dengan pihak PT Trans, yakni Pak Chairul Tanjung dan semua jajaran direksinya, Alhamdulillah kita sudah melakukan MoU,” terang Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, kemarin (10/3).

Karena itu, pemkot terus berupaya melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, utamanya para seniman yang merasa keberatan dengan pembangunan Trans Studio.

”MoU adalah kesepakatan kedua belah pihak, antara pemkot dan PT Trans Ritel Property. PT Trans akan membangunkan Trans Studio dan wahana wisata lain, pemkot menyiapkan lahannya, hanya yang ditunjuk atau pilihan mereka adalah di Wonderia,” kata Hendi, sapaan akrab wali kota.

Bukan berarti pemkot menjalankan kerja sama itu sendiri tanpa melibatkan masyarakat dan pihak terkait. Termasuk para seniman. Pemkot memastikan tetap memberikan ruang bagi para seniman untuk berkarya.

”Kita sangat terbuka, bagi teman-teman ini (seniman) mau bagaimana, kalau memang mau di situ kita akan perbaiki. Supaya ini menjadi satu kesatuan kompleks yang bagus. Atau nanti dipindah ke lokasi lain atau bagaimana, kan belum pernah dibicarakan,” ujarnya.

”Saya rasa sebaiknya pertanyaan yang utamanya harus dijawab, setuju tidak dengan Trans Studio? Kalau tidak setuju ya selesai, kalau setuju mau ditaruh di mana nanti TBRS kita diskusikan bersama,” imbuh wali kota.

Hendi pun tidak memungkiri pasca penandatanganan MoU rencana pembangunan Trans Studio ini bakal menimbulkan pro dan kontra. Namun jika dilihat dari segi positif dan kepentingan yang lebih luas, maka keberadaan Trans Studio tersebut dapat meningkatkan kemajuan Kota Semarang, utamanya dari sektor pariwisata.

”Kalau saat ini terjadi polemik, dalam agenda investasi pembangunan Trans Studio di TBRS, saya rasa ini bentuk partisipasi masyarakat karena mereka cinta dengan kota ini,” katanya.

”Saya sepakat dengan apa yang disampaikan almarhum Prof Eko Budiardjo, mantan Rektor Undip yang juga budayawan, dalam proses pembangunan lebih baik kita ribut di depan daripada ribut di belakang,” ujarnya.

Disinggung mengenai tempat alternatif lain, wali kota menyatakan, pihak Trans telah melihat potensi lahan Wonderia sebagai Trans Studio. ”Saya sudah ajak muter-muter nggak mau. Kita punya lahan 20 hektare di BSB, tapi nggak mau juga. Mereka naksirnya di situ (Wonderia-TBRS),” katanya. ”Saya rasa polemik ini muncul karena komunikasi yang kurang, sosialisasi yang belum diterima oleh masyarakat,” tandasnya.

Tak bisa dimungkiri mayoritas masyarakat Kota Semarang mendukung Trans Studio dibangun di Semarang. Di antaranya Sekretaris Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) Kota Semarang, Amrudin Mahfudz Jumai. Menurutnya, pro kontra rencana pembangunan Trans Studio adalah hal yang wajar. Namun jika melihat masih minimnya objek wisata di Kota Semarang dan cenderung kurang ter-branding dengan baik, maka Trans Studio menjadi pilihan.

”Trans Studio yang direncanakan di Kota Semarang ini harus dilakukan kajian yang matang, dan melibatkan pihak-pihak terkait untuk mengawal rencana ini secara komprehensif,” tegas Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang ini.

Menurutnya, keberadaan TBRS bisa menjadi satu kompleks di dalam Trans Studio, direnovasi menjadi lebih modern tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah TBRS. ”TBRS bagaimana bisa dikembangkan lebih strategis sebagai pusat pengkaderan seniman-seniman dan budayawan Kota Semarang ini yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah TBRS,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perencanaan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, M. Farchan mengatakan, pemkot menjamin tak akan menghilangkan fungsi kantong budaya di TBRS. Nota kesepahaman yang sudah dilaksanakan dengan investor baru tahap awal. Dan dari rencana ini, tidak ada sedikit pun niat pemkot untuk menggusur TBRS. Fungsi ruang publik serta pelestarian budaya yang selama ini ada akan tetap dipertahankan.

”MoU saat ini baru sebatas perencanaan, belum ke teknis. Perencanaan selanjutnya akan melibatkan seniman, budayawan, dan masyarakat secara umum. Tidak ada rencana menghilangkan fungsi kantong budaya di TBRS,” katanya.

Namun, diakuinya, saat ini merupakan momentum untuk menata kawasan TBRS dan Wonderia. Apalagi selama ini Kota Semarang sangat minim tempat rekreasi. Ketika ada investor datang tidak selayaknya langsung ditolak dengan alasan yang sebenarnya tak substansial.

Dia menegaskan, kawasan TBRS peruntukannya juga memang untuk kawasan budaya dan pariwisata. Sehingga rencana pembangunan Trans Studio itu dimaksudkan untuk pengembangan kawasan tersebut yang justru diamanatkan dalam peraturan daerah.

”Kawasan TBRS peruntukannya memang untuk kawasan budaya dan pariwisata, dan pengelolaan saat ini belum optimal. Untuk rencana pembangunan yang mendatangkan investor besar, terutama untuk Trans Studio sebenarnya tidak ada masalah. Apalagi jika bisa saling mendukung dengan potensi yang telah ada. Seniman juga bisa dilibatkan dalam rencana ini, kenapa harus langsung ditolak?” tegasnya.

Dia mengatakan, sebelumnya Bappeda telah menginventarisasi beberapa lokasi yang dinilai bisa jadi alternatif tempat selain TBRS dan Wonderia. Salah satu lokasi adalah Pekan Raya Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, tapi saat ini lahan di PRPP bermasalah antara PT IPU dan Pemprov Jateng.

Untuk di wilayah pinggiran seperti di Kecamatan Gunungpati, Mijen, Ngaliyan dan Tugu, pihaknya belum memberi rekomendasi. Karena penggunaan wilayah pinggiran itu dapat merusak tatanan keruangan yang telah ada. Selain itu, kawasan pinggiran itu peruntukkannya sebagai kawasan sub-urban dengan mempertahankan fungsi resapan. Jadi tak mungkin direkomendasikan.

”Jika Trans Studio didirikan di BSB Ngaliyan misalnya, akan memperparah kerusakan wilayah konservasi di wilayah atas,” tandasnya.

Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mengatakan, setelah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan wali kota dan jajarannya, pihaknya juga sangat mendukung adanya pembangunan Trans Studio tersebut. Karena jika dilihat dalam Perda No 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW), ternyata disebutkan bahwa pengembangan dan peningkatan kawasan TBRS untuk wisata. ”Artinya kawasan TBRS itu bisa untuk dikembangkan, salah satunya seperti untuk dibangun Trans Studio ini,” katanya.

Namun dia tetap menegaskan, pemkot harus melakukan kajian yang mendalam dan menyeluruh terhadap dampak yang ditimbulkan. Tidak hanya dampak ekonomi tapi juga dampak lingkungan, sosial, transportasi, dan lainnya. Dalam kajian tersebut, para seniman dan semua pihak yang terkait harus dilibatkan.

”Yang jelas ternyata dalam Perda RTRW itu pengembangan dan peningkatan wisata alam dan cagar budaya bisa di kawasan TBRS. Jadi sudah jelas bahwa kawasan itu bisa dikembangkan dan ditingkatkan untuk dibangun suatu destinasi wisata baru yakni Trans Studio,” tegasnya. (zal/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.