Mendesak Dibuat Perda Khusus

424
BERPAKAIAN ADAT : Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Semarang dan SKPD dan pejabat di Kabupaten Semarang menggunakan pakaian adat khas Semarangan dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD memperingati Hari Jadi ke-494 Kabupaten Semarang, Kamis (12/3) pagi. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BERPAKAIAN ADAT : Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Semarang dan SKPD dan pejabat di Kabupaten Semarang menggunakan pakaian adat khas Semarangan dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD memperingati Hari Jadi ke-494 Kabupaten Semarang, Kamis (12/3) pagi. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BERPAKAIAN ADAT : Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Semarang dan SKPD dan pejabat di Kabupaten Semarang menggunakan pakaian adat khas Semarangan dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD memperingati Hari Jadi ke-494 Kabupaten Semarang, Kamis (12/3) pagi. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Pemkab Semarang diminta membuat Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang ciri khas Kabupaten Semarang. Yakni ciri khas pakaian adat, arsitektur bangunan rumah limasan dan kuliner yang ada di wilayah Kabupaten Semarang. Sehingga kekhasan Kabupaten Semarang dapat terjaga. Saat ini baru ada Perda Nomor 1 Tahun 2013 tentang Hari Jadi Kabupaten Semarang.

Salah seorang peneliti sejarah modern, Syamani asal Kabupaten Semarang yang juga masuk dalam tim penelitian berdirinya Kabupaten Semarang mengatakan, pihaknya melakukan penelitian berdirinya Kabupaten Semarang mulai dari Demak, lalu di Kanjenengan, Kota Semarang dan kepindahannya di Ungaran. Sejak kepindahnnya di Kota Ungaran sudah mengalami berbagai kemajuan. Bahkan banyak juga kekhasan yang dimiliki Kabupaten Semarang yang tidak dimiliki kota lainnya. Tetapi belum ada penetapan kekhasan tersebut sehingga perlu di-Perda-kan.

“Sehingga perlu dibuatkan Perda tentang kekhasan itu. Pakaian adat khas Semarangan setahu saya baru sekarang dipakai seperti ini (serentak dalam acara resmi Paripurna). Tapi setahu saya, penggunaan pakaian khas Semarangan belum di-Perda-kan. Perlu ada sarasehan atau seminar khusus membahas masalah ciri khas Kabupaten Semarang,” tutur Syamani di sela-sela mengikuti Sidang Paripurna Istimewa DPRD memperingati Hari Jadi ke-494 Kabupaten Semarang, Kamis (12/3) pagi.

Syamani mengatakan, selain pakaian adat, perlu ditelusuri masalah kebudayaan yang meliputi hasil cipta, karsa dan karya manusia seperti adat istiadat, makanan (kuliner) dan arsitektur bangunan. Padahal bangunan arsitekturnya juga sudah ada kekhasan berupa limasan dengan atap joglo seperti bangunan Sahal Suhail, Pendapa Rumdin Bupati Semarang dan Gedung Bakti Praja (gedung paripurna DPRD Pendopo). Jika sudah ada kesepakatan cirri khas tersebut dibuat payung hukum yakni Perda kekhasan.

“Jika kekhasan itu sudah digali dan disepakati bersama sebagai ciri khas Kabupaten Semarang, kemudian diberi payung hukum. Sampai sekarang arsitektur bangunan Kabupaten Semarang belum punya ciri khas. Padahal tahun 1998 pernah disepakati ciri khas arsitektur bangunan Kabupaten Semarang berupa limasan dengan tiga atap joglo,” imbuhnya. (tyo/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.