Nyonya Meneer Optimis Tidak Akan Pailit

364

SRONDOL – PT Nyonya Meneer menyangkal jika perusahaannya bakal mengalami kepailitan. Pada sidang di Pengadilan Niaga Semarang hanya membahas pemeriksaan perkara sengketa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) bukan kepailitan. Dari beberapa pemberitaan tersebut juga dianggap bisa membuat resah para buruh karyawan di perusahaannya.

Hal itu diungkapkan Erni Widiyaningrum, selaku kepala Humas PT Nyonya Meneer, didampingi Staf Humas, Caecilia Novi. ”Dari beberapa pemberitaan ada yang mengatakan gaji karyawan tidak dibayar kami sangat keberatan apalagi yang katanya perusahaan kami pailit. Padahal gaji karyawan masih lancar, produksi perusahaan kami juga masah lancar, kami masih melakukan aktivitas seprti biasa,” kata Erni, Kamis (12/3).

Dia menjelaskan, dalam beberapa pemberitaan yang mengungkapkan gaji karyawan tidak dibayar, dengan keterangan nama Purnama selaku karyawan PT Nyonya Meneer hal itu tidaklah benar, bahkan ia membantah nama tersebut karyawannya. ”Karyawan kami tidak ada yang namanya Purnama, kalau tidak percaya dan mau data sekunder serta data personalia bisa dicocokan dan dicek di kantor kami, Jalan Kaligawe,” jelasnya.

Selain itu, Erni berharap akan bertahan di angka yang sebelumnya menjadi pedoman dalam sengketa utang dengan PT Nata Meredia Investara (PT NMI) sebesar Rp 17,7 miliar. ”Karena didata kami, utang PT Nyonya Meneer hanya Rp 17,7 miliar, itu total utang semua dan dalam bentuk utang uang. Mengenai angkanya nanti akan berubah naik atau turun untuk mencapai perdamaian, itu kewenangan direksi dalam menyepakatinya,” sebutnya.

Erni mengatakan, guna mencapai kesepakatan dalam waktu sidang PKPU tetap yang sudah diberikan perpanjangan waktu oleh majelis hakim, ia akan terus melakukan upaya negosiasi. ”Kami siap mencapai kesepakatan. Upayanya yang kami lakukan dengan berbicara mencari penyelesaian antara manajemen, selain itu antara kuasa hukum dan kami akan terus koordinasi dengan PT NMI,” katanya

Sementara itu, Priska Erjani, Kuasa Direksi PT NMI mengatakan, pihaknya juga mempunyai pembukuan sendiri. Sebelum sidang sengketa PKPU, pihaknya sudah melakukan proses panjang untuk menagih. ”Kita sudah tagih, jawabnya gak jelas juga, sebenarnya kami tidak ingin ke persidangan,” ujar Priska.

Dia menyebutkan, jumlah yang ditagih Rp 89 miliar, ditambah barang senilai Rp 21 miliar. ”Semua sudah ada perinciannya. Akan tetapi, karena sudah lama, pihak PT Nyonya Meneer kesulitan keuangan, jadi kami yang mengutangi,” tandasnya.

Dikatakan Priska, PT Nyonya Meneer sudah mengenakan bunga 3 persen. Jumlah Rp 89 miliar tersebut sudah termasuk bunga. ”Dari 2009 sampai sekarang belum ada upaya (pembayaran). Sebelumnya kami sudah baik-baik bicara. Mengenai pailit-pailit ini bukan bidang kita, kita ingin yang legal saja sesuai dengan undang-undang,” katanya. (mg21/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.