Pedagang Tahu Tempe Merugi

372
BANGKRUT : Meski harga kedelai turun, pedagang tempe tahu tetap merugi karena naiknya harga kebutuhan pokok dan tenaga kerja. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
BANGKRUT : Meski harga kedelai turun, pedagang tempe tahu tetap merugi karena naiknya harga kebutuhan pokok dan tenaga kerja. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
BANGKRUT : Meski harga kedelai turun, pedagang tempe tahu tetap merugi karena naiknya harga kebutuhan pokok dan tenaga kerja. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Meski nilai dolar terhadap rupiah menguat hingga Rp 13 ribu per dolar AS, namun harga kedelai impor justru turun sejak dua pekan terakhir. Yakni, dari harga semula Rp 7.800 menjadi Rp 7.000 per kilogram. Namun, pedagang tempe dan tahu di Kabupaten Batang justru merugi, lantaran ada kenaikan harga gas elpigi dan kayu bakar hingga 20 persen dari harga sebelumnya. Bahkan biaya tenaga kerja pun turut naik.

“Harga kedelai impor memang turun rata-rata Rp 500 per kilogram. Namun untuk harga gas elpiji dan tenaga kerja naik. Karena kenaikan harga beras, sangat berpengaruh pada kebutuhan pokok lainnya,” ungkap Sardi, 34, warga Dukuh Kebonan, Kelurahan Proyonanggan, Kecamatan/Kabupaten Batang, Kamis (12/3) kemarin.

Akibatnya, banyak pedagang tahu dan tempe di Dukuh Kebonan, Kelurahan Proyonanggan, Kecamatan/Kabupaten Batang, memilih usaha lain atau berganti profesi yang lebih menguntungkan dan menjanjikan. “Saat ini untuk kembali modal dan bisa ikut makan saja, sudah bagus,” kata Sardi.

Hal senada disampaikan H Rozikin, 56, pedagang tempe asal Kelurahan Proyonanggan. Menurutnya, meski harga kedelai turun, tidak berpengaruh pada keuntungan yang diperolehnya, karena beberaga pendukung lainnya ikut naik.

“Kalau tidak punya pelanggan tetap, saya yakin pedagang tempe tahu pasti gulung tikar. Tempat kami hanya melayani pedagang tahu tempe langganan, sehingga sebelum produksi sudah tahu berapa kerugian atau untung yang akan diperoleh,” ujar Rozikin.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan UMKM, Kabupaten Batang, Jamal Naseer, menegaskan bahwa turunnya harga kedelai impor di tengah melemahnya rupiah terhadap dollar AS, karena melimpahnya pasokan kedelai dari luar negeri.
“Saat ini beberapa negara pemasok kedelai, seperti Amerika Serikat dan Thailand sedang panen raya. Harga kedelai impor turun, ada yang Rp 500 hingga Rp 750 per kilogramnya,” tegas Jamal. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.