Betah di Semarang, Ingin Latih Timnas Taekwondo

741
PETARUNG: Sim Woo Jin, selain bersabuk hitam taekwondo, juga bersabuk hitam judo. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
PETARUNG: Sim Woo Jin, selain bersabuk hitam taekwondo, juga bersabuk hitam judo. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
PETARUNG: Sim Woo Jin, selain bersabuk hitam taekwondo, juga bersabuk hitam judo. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

Pelatih pelatda Taekwondo Jateng asal Korea Selatan Sim Woo Jin mengaku senang diberi kepercayaan memoles taekwondoin bertalenta asal Jateng. Selama di Semarang, Sim juga belajar banyak mengenai kebudayaan Indonesia.

AJIE MH

INDONESIA cukup menyenangkan bagi Sim Woo Jing. Sekitar setengah tahun berada di Kota Semarang, Sim mengaku sangat betah. “Saya sangat suka sejak kali pertama menginjak tanah di Semarang,” ungkapnya kepada Radar Semarang ketika ditemui di Dojang Taekwondo Jateng GOR Jatidiri, kemarin.

Agar bisa belama-lama di sini, pria kelahiran Daigu, Korea Selatan, 28 Desember 1986 ini siap mencurahkan segala pikiran dan tenaga untuk memajukan taekwondo Jateng. Saking semangatnya Sim sempat sakit gara-gara memikirkan target pola latihan, “Makin senang dengan semangat latihan atlet-atlet. Mereka mau mendengarkan dan menjalankan instruksi dengan baik,” paparnya.

Pemlilik postur 176 cm/82 kg ini berceloteh mengenai awal dirinya bisa ‘terdampar’ di Jateng. Sim mengaku mendapat perintah dari guru kepercayaannya pergi ke negeri lain untuk mencari pengalaman baru. “Katanya, kalau hanya melatih di Korsel saja, tidak akan bisa berkembang. Beliau mendorong saya untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya mumpung masih muda,” tutur penggemar bakso dan soto ini.

Penyuka musik dan memancing ini memang bisa dibilang berbakat. Dia telah mengantongi sertifikasi pelatih serta dosen dari uji kompetensi di negara asalnya. Menurutnya, di Korsel, atlet tidak diperbolehkan mengajar tanpa ada izin dari pemerintah.

Jebolan S2 ilmu pendidikan olahraga yang telah bergelar PhD ini juga pemegang sabuk hitam judo. Dia memang suka dengan olahraga beladiri sejak masih berumur 7 tahun. Saat itu skill Sim sudah moncer. Meski postur tubuhnya tergolong tak begitu ideal dia mampu melibas lawan-lawannya. Sudah seabrek piala bukti juara di negaranya. Merasa kenyang prestasi, di usia 24 tahun, dia memutuskan pensiun dari atlet dan mengajar murid-murid SMP. Apalagi dia dilanda cedera yang membuatnya sulit bertarung.

Walaupun terbilang jenius, Sim yang masih membujang ini mengaku kurang jago dalam penguasaan bahasa asing. Meski sudah berbulan-bulan di Jateng, kosakata Indonesianya belum mahir. “Saya mengakui, kendalanya mengajar di Jateng adalah bahasa. Sedikit-sedikit mengerti. Tapi ngomongnya kurang lancar,” ungkapnya terbata-bata.

Untuk mengatasi hal itu, dia selalu menenteng gadget yang telah diinstal aplikasi Google Translate sebagai kamus sakunya. Ketika lawan biacaranya tidak paham apa yang dimaksudkan, Kim langsung mengetik di aplikasi itu dan ditunjukkan arti bahasanya. “Jadi ponsel saya tidak boleh kehabisan baterai. Soalnya ini senjata satu-satunya. Kalau sampai kehabisan baterai, bisa gawat,” pungkasnya sambil terkekeh. (*/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.