Sumbang Rp 1 M, Parkir Tak Ditata

318
PERLU DITATA : Parkir di sepanjang Jalan Jendral Sudirman masih perlu ditertibkan akan tidak menimbulkan kemacetan lalulintas. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PERLU DITATA : Parkir di sepanjang Jalan Jendral Sudirman masih perlu ditertibkan akan tidak menimbulkan kemacetan lalulintas. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PERLU DITATA : Parkir di sepanjang Jalan Jendral Sudirman masih perlu ditertibkan akan tidak menimbulkan kemacetan lalulintas. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

SALATIGA–Sektor parkir mampu menyumbang hingga Rp 1 miliar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Salatiga. Pendapatan parkir tersebut, terbesar dari total pendapatan Dinas Perhubungan Komunikasi Budaya dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Kota Salatiga sebesar Rp 2,1 miliar, setelah ditambah dari sektor lainnya.

Ironisnya pemasukan besar tersebut tidak diimbangi dengan penataan parkir liar yang masih banyak terjadi di Salatiga. Belum lagi pertokoan yang tidak mempunyai lahan parkir, kerap menimbulkan kemacetan lalulintas.

Dalam pantauan Radar Semarang, kemarin (13/3), parkir di beberapa jalur utama, seperti depan Klenteng dan depan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) masih sering menimbulkan kemacetan. Utamanya jika jam-jam pulang kerja.

Kepada wartawan, Kepala Dishubkombudpar Kota Salatiga, Ady Suprapto mengatakan bahwa pendapatan Dishubkombudpar tahun 2014 melebihi target yang telah dicanangkan. Meskipun tidak terlalu besar. “Untuk tahun 2015 ini, kami targetkan kembali sebesar Rp 1 miliar. Sedang, unit atau bagian lainnya masih di bawah pendapatan parkir. Bahkan yang paling sedikit PAD-nya adalah dari bidang pariwisata. Contohnya, dari Kolam Renang Kalitaman dalam setahun hanya setor ke PAD sebesar Rp 8 juta dan sewa gedung pertemuan daerah (GPD) Rp 60 juta saja,” jelas Ady.

Terkait parkir liar yang sering menimbulkan kemacetan, Ady berjanji akan berkoordinasi dengan jajarannya. Nanti akan dilakukan tindakan tegas. Karena parkir liar sering menimbulkan kemacetan. “Dinas saat ini masih mengkaji, daerah yang punya lahan parkir dan tidak,” terangnya.

Sementara itu, Fian, 24, mengeluhkan adanya parkir liar dan pertokoan yang tidak memiliki lahan parkir, kerap menimbulkan kemacetan. Karena itu, perlu aturan jelas, jika pelayanan parkir asal-asalan. Rata-rata parkir yang asal tarik uang, tidak melayani pengendara dengan baik. Paling tidak mengarahkan atau menyetop kendaraan yang lalulalang saat mobil atau motor keluar parkiran. “Jika tidak segera ditertibkan, parkir liar bisa menjamur. Karena kerjanya enak tanpa mengeluarkan tenaga. Hanya modal peluit,” pungkasnya. (abd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.