Membutuhkan Akurasi Dan Skill Bagus

448
MELAYANG - Atlet Paralayang melayang di atas kawasan Bandungan setelah take off dari Puncak Bukit Paralayang Desa Sidomukti Bandungan. Para penerbang paralayang itu bersaing memperebutkan Kejuaraan Open Paralayang 2015. (PRISTYONO/JAWA POA RADAR SEMARANG)
MELAYANG - Atlet Paralayang melayang di atas kawasan Bandungan setelah take off dari Puncak Bukit Paralayang Desa Sidomukti Bandungan. Para penerbang paralayang itu bersaing memperebutkan Kejuaraan Open Paralayang 2015. (PRISTYONO/JAWA POA RADAR SEMARANG)
MELAYANG – Atlet Paralayang melayang di atas kawasan Bandungan setelah take off dari Puncak Bukit Paralayang Desa Sidomukti Bandungan. Para penerbang paralayang itu bersaing memperebutkan Kejuaraan Open Paralayang 2015. (PRISTYONO/JAWA POA RADAR SEMARANG)

BANDUNGAN – Sebanyak 28 atlet Paralayang, kemarin, beradu kebolehan dalam kejuaraan Open Paralayang 2015. Mereka para atlet melakukan take off di Puncak Bukit Paralayang, Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dengan ketinggian sekitar 1.200 Mdpl (Meter di atas permukaan laut) dan landing atau mendarat di lapangan Kluwihan, Jimbaran Bandungan.

Panitia Kejuaraan Open Paralayang Sidomukti 2015, Dimas Immawan mengatakan, kejuaraan diikuti 28 peserta dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DI Jogjakarta dan Kalimantan Timur. Kejuaraan digelar mulai Jumat (15/5) hingga Sabtu (16/5) di Bukit Paralayang Sidomukti. Dalam Kejuaraan tersebut Peserta terbagi menjadi kategori junior yakni minimal sudah terbang sebanyak 25 kali dan senior sudah lebih dari 50 kali terbang. “Peserta terbagi dalam dua kategori perlombaan yakni kelompok junior dan senior. Masing-masing peserta diberi kesempatan lima kali terbang. Selanjutnya untuk penilian adalah ketapatan landing pada titik yang ditentukan,” kata Dimas yang menjadi anggota G9 Paralayang Semarang.

Dimas menambahkan, skor yang dikumpulkan dalam penerbangan dikumpulkan untuk menentukan kemenangan. Pemenangnya yakni pemilik skor terendah. Dimas mencontohkan, jika mendarat tepat di titik yang ditentukan maka mendapatkan skor 0. Tapi jika mendarat tidak sesuai, misalnya mendarat sekitar 200 meter dari titik yang ditentukan maka skornya 200. “Faktor penentu ketepatan pendaratan selain skill penerbang juga kondisi angin saat itu,” imbuhnya.

Angin yang berhembus dari belakang peserta atau disebut downwin itu membahayakan. Selain itu factor kekuatan fisik terutama pada kekuatan tangan peserta juga mempengaruhi. “Sebab kunci mengendari parasut itu dari kekuatan menarik atau menguasai parasut dengan baik sehingga bisa terbang dan mendarat dengan baik,” tambahnya. (tyo/fth)