Pedagang Waspadai Jaringan Listrik Pasar

356
KURANG TERAWAT: Jaringan listrik di Pasar Peterongan tampak kusam dengan kabel yang tak teratur cukup butuh perbaikan. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KURANG TERAWAT: Jaringan listrik di Pasar Peterongan tampak kusam dengan kabel yang tak teratur cukup butuh perbaikan. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Atas kesadaran sendiri, para pedagang di beberapa pasar di Kota Semarang berusaha memperbaiki instalasi listrik di kiosnya. Menyusul terjadinya kebakaran Pasar Johar Sabtu (9/5) lalu.

Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Peterongan, Widodo mengungkapkan para pedagang dengan kesadarannya sendiri berusaha meneliti instalasi listriknya. ”Kendati Dinas Pasar belum kasih peringatan, namun para pedagang meningkatkan kewaspadaan sendiri,” katanya.

Diakuinya, korsleting listrik sudah biasa terjadi, namun selalu bisa diatasi oleh petugas maupun pedagang. ”Harapannya jangan sampai terjadi kebakaran seperti di Pasar Johar, rasanya tidak tega Mas,” sebutnya.

Sementara itu, Deny Agency, anggota PPJP Peterongan menambahkan, untuk pedagang di dalam pasar pernah diberi peringatan oleh Dinas Pasar, agar sesudah jualan segera matikan lampu. ”Selain itu, kabel-kabel yang sudah tidak layak disuruh mengganti pakai kabel yang standar,” imbuhnya.

Demikian juga dengan Pasar Jatingaleh. Mantan Ketua PPJP Pasar Jatingaleh, Sartini mengatakan untuk antisipasi adanya kebakaran, para pedagang diimbau menyiapkan ember. ”Tiap-tiap bakul (pedagang) harus siap ember. Selain itu, ada 2 sumur yang sudah disiapkan. Belum lagi alat pemadam kebakaran di kantor Dinas Pasar yang sudah disiapkan,” kata wanita yang akrab disapa Ibu Ragil.

Untuk penjaga pasar, diakuinya, sudah 2 bulan tidak diberdayakan. Pasalnya, ketika dijaga justru banyak yang mengalami kehilangan barang. ”Setelah tidak dijaga, tidak ada kehilangan dan aman. Makanya kami mengimbau, para pedagang memperkuat keamanan tokonya masing-masing dan mengurangi penimbunan dagangan,” sebutnya.

Peringatan tersebut, diakuinya, tidak dalam bentuk tertulis melainkan secara lisan lewat pengeras suara yang diberikan oleh Dinas Pasar maupun PPJP. ”PPJP sendiri juga melakukan siaran berupa imbauan agar pedagang berhati-hati,” ujarnya.

Ibu Ragil mengatakan di Pasar Jatingaleh sudah 4 kali mengalami kebakaran pasar. Namun kebakaran tersebut cepat tertolong dan dimatikan sendiri oleh pedagang. ”Pedagang juga selalu diingatkan untuk melakukan penambahan aliran listrik jangan lebih dari muatan. Selain itu, sebagian warung sudah menyediakan sendiri alat pemadam kebakaran,” ungkapnya.

Pengelola UPTD (unit pelaksana teknis daerah) Dinas Pasar Wilayah II Karimata Pasar Langgar Indah, Warto Sugiyo justru sudah mengeluarkan surat edaran (SE) yang diberikan kepada pedagang dan sebagian ditempel di kios-kios pedagang. ”Kami sudah menerbitkan SE, baik dari Dinas Pasar Kota Semarang maupun pengelola pasar. Salah satu fungsinya untuk mengantisipasi bahaya kebakaran,” kata Warto.
Pihaknya juga melakukan peringatan rutin, agar yang memakai kompor dan kayu bakar lebih berhati-hati. ”Kami selalu memperingatkan, apalagi musim kemarau bisa menimbulkan bahaya. Selain itu, ada penjaga pasar yang selalu bertugas. Untuk pembenahan listrik, semua sudah diminimalisasi,” ungkapnya.

Warto menyebutkan ada 5 poin dalam SE tersebut. Di antaranya pedagang pasar tradisional harus menjaga kebersihan, keindahan dan ketertiban (K3). ”Selain itu diimbau menjauhkan barang-barang yang mudah terbakar, mematikan lampu yang tidak penting saat akan meninggalkan kios/los dan yang tidak mengindahkan imbauan akan ditertibkan oleh aparat pemerintah,” sebutnya.

Warto mengatakan di Pasar Langgar Indah ada 358 pedagang, meliputi pedagang kelontong, konveksi, bumbon, pecah-belah, daging, tempe-tahu, buah-buahan, warung makan, gerabah, roti dan makanan, jasa, hasil bumi, unggas, sembako, dan aksesori.

”Dari awal berdiri sampai sekarang Pasar Langgar Indah masih aman. Pasar Langgar juga masih satu wilayah dengan Pasar Karimata, Dargo, Rejomulyo, dan Waru Indah,” katanya.

Sementara itu, Pemkot Semarang sendiri baru berencana meningkatkan pengecekan terhadap instalasi listrik di seluruh pasar tradisional. ”Kalau masih ada yang mengatakan kebakaran Pasar Johar, itu karena disengaja, lebih baik suruh catat nomor handphone kemudian lapor ke polisi,” tegas Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (17/5) kemarin.

Menurutnya, arahan serta kebijakan yang pernah disampaikan Gubernur Jateng terkait upaya pengecekan terhadap instalasi listrik di tempat-tempat umum termasuk pasar tradisional sangatlah tepat. Bahkan pihaknya yakin kalau langkah tersebut dapat meminimalisasi potensi korsleting listrik yang bisa menyebabkan kebakaran.

”Kami akan melakukan pengecekan secara periodik beberapa waktu ke depan. Kemungkinan tiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Namun, bukan berarti selama ini tidak ada perawatan dan pengecekan terhadap instalasi listrik di pasar-pasar tersebut. Perawatan pastinya sudah dilakukan Dinas Pasar,” ujarnya.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Tridjoto Sardjoko mengakui kegiatan pengecekan dan perawatan instalasi listrik di pasar-pasar rutin dilakukan setiap tahun. ”Tiap tahun hanya ada empat pasar yang dilakukan pengecekan dan perawatan instalasi listrik, karena keterbatasan anggaran. Kalau perawatan instalasi listrik tahun ini salah satu adalah Pasar Johar. Namun tidak semua, karena Johar cukup besar dan luas. Pada bagian mana yang dicek, secara teknis saya tidak tahu,” ujarnya.

Pihaknya juga telah mengumpulkan dan meminta semua kepala unit pelaksana teknis daerah (UPTD) untuk meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi kebakaran. ”Saya sudah melakukan evaluasi, saya perintahkan mereka untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Meski sebenarnya sudah ada surat edaran untuk melakukan tugas itu,” pungkasnya. (bj/mha/ida/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.