Beli Onderdil Setahun, Rangkai Satu Sepeda

403
SEPEDA TUA : Paguyuban Pit Toea Batang saat berkumpul di Alun-Alun Batang, setiap minggu pagi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEPEDA TUA : Paguyuban Pit Toea Batang saat berkumpul di Alun-Alun Batang, setiap minggu pagi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Paguyuban Pit Toea Batang (PAPITOB), tidak hanya menjadi ajang berkumpul dan bersepeda. Sebagian anggotanya membuka Pasar Klitikan agar bisa membeli sepeda tua dan merangkai sendiri. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Batang

PAGUYUBAN Pit Toea Batang yang didirikan para penggemar sepeda tua sejak tahun 2008, berawal dari 20 anggota saja. Namun seiring berjalannya waktu, kini jumlah anggotanya sudah lebih dari 100 orang.

Selain melakukan kegiatan bersepeda bersama setiap Minggu pagi di Alun-Alun Kota Batang, juga dimanfaatkan untuk membuka ruang melakukan transaksi jual beli onderdil sepeda tua. Biasanya disebut Pasar Klitikan. Di pasar ini, paguyuban sengaja mendatangkan pedagang onderdil sepeda tua dari daerah lain. Tersedia beragam onderdil sepeda tua, mulai sadel, stang hingga lampu dan pelek. Mulai dari jenis Fongers, Simplex hingga Gazelle.

Ketua Paguyuban Pit Toea Batang, Muhamad Ali Imron, mengungkapkan bahwa paguyuban dibentuk, untuk memelihara budaya menggunakan sepeda tua. Namun karena banyaknya peminat sepeda tua, sedangkan jumlahnya terbatas, maka paguyuban membuka Pasar Klitikan. Yakni, sekumpulan pedagang yang menyediaan onderdil sepeda tua.

“Bagi warga yang ingin memiliki sepeda tua, namun anggarannya terbatas, sebaiknya berburu onderdil sepeda tua di Pasar Klitikan yang sering diadakan oleh Paguyuban Pit Toea Batang,” kata Ali Imron atau biasa dipanggil Ipong.

Menurutnya, jika membeli sepeda tua secara utuh, harganya sangat mahal. Namun jika membeli sepeda tua secara terpisah, kemudian dirangkai menjadi satu, akan jauh lebih murah. Namun untuk berburu onderdil sepeda tua secara utuh tersebut, dibutuhkan waktu lama hingga satu tahun lebih.

“Saya sering berburu onderdil sepeda tua di Pasar Klitikan yang sering diadakan oleh Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti). Dari modal Rp 3 juta bisa mendapatkan sepeda tahun 1960-an dan bisa dijual dengan harga di atas Rp 5 juta,” kata Ipong yang sering melakukan jual beli sepeda tua.

Salah satu anggota paguyuban, Winarno, 47, warga Desa / Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, merasa bangga memiliki sepeda tua jenis Gazelle tahun 1960 an. “Apalagi harga sepeda tua setiap tahun terus naik. Jika bisa merawat sepeda tua dengan baik dan sering ikut pameran sepeda tua yang dilakukan komunitas, akan semakin mahal,” tuturnya.

Winarno pun mengungkapkan bahwa dirinya membeli sepeda Gazelle keluaran tahun 1960 seharga Rp 3 juta pada tahun 2009. Namun, saat ini sudah ditawar seharga Rp 5 juta lebih. “Tapi tidak saya jual, karena memiliki sepeda tua merupakan kebanggaan,” ungkap Winarno. (*/ida)