Sampaikan Aspirasi Warga, Tak Pikirkan Profit

545
KCS FOR JAWA POS RADAR SEMARANG
KCS FOR JAWA POS RADAR SEMARANG
KCS FOR JAWA POS RADAR SEMARANG

Komunitas Cah Semarang awalnya hanya beranggota 195 orang. Kini komunitas yang kerap mengkritik Pemkot Semarang ini dihuni lebih dari 7 ribu orang. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

BANYAK warga Semarang merasa kota yang dihuninya ini butuh banyak pembenahan. Sayang, mereka tidak berani mengkritik. Entah karena takut, atau tidak tahu bagaimana cara memberi masukan untuk penghuni kursi pemerintah kota (pemkot).

Melihat fenomena ini, pada 1 Februari 2009 silam, beberapa pemuda yang merasa besar di Semarang membentuk perkumpulan yang berlabel Komunitas Cah Semarang (KCS). Kumpulan yang awalnya hanya dihuni 195 orang ini sama-sama berantusias menjadi corong masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Karena terus menggebrak dengan kegiatan-kegiatannya, makin banyak warga yang ingin bergabung. Kini, tercatat sudah ada sekitar 7 ribuan anggota yang saban hari saling sharing lewat media sosial Facebook.

”Kami lahir sebagai bentuk keprihatinan terhadap Kota Semarang. Melihat dan sesekali memberi masukan aspirasi dari masyarakat agar pemerintahan tidak amburadul. Bukan sebagai kritikus, tapi lebih ke arah partner,” kata Ketua KCS, Nanang Agus Kristianto.

Dikatakannya, KCS kerap menggelar aneka forum seperti mempertemukan wali kota, SKPD (satuan kerja perangkat daerah), warga, mahasiswa, komunitas, hingga LSM. Pertemuan yang lebih tepat disebut rembukan ini dikemas cukup sederhana. Duduk lesehan dengan nuansa yang jauh dari sebutan formal untuk membicarakan kondisi Kota Lunpia.

”Di situ semua duduk bareng sebagai Cah Semarang. Membahas soal apa pun yang harus segera dibenahi di untuk kemajuan kota ini. Dari situ, muncul ide-ide dari warga yang sungguh di luar dugaan. Jadi, kedua belah pihak akan saling diuntungkan. Masyarakat bisa langsung memberikan suara, dan pemerintah bisa lebih tahu persoalan apa yang sebenarnya terjadi di lapisan bawah sekali pun,” paparnya.

Meski yang mereka kerjakan melibatkan berbagai stakeholder dan pemerintah terkait, tapi Nanang mengaku KCS tidak pernah memikirkan profit. Bahkan sering tombok. ”Perubahan memang butuh pengorbanan dan perjuangan. Kami tidak pernah memikirkan profit. Bahkan sering tombok,” ucapnya sambil tersenyum.

Hal itu dirasa bukan jadi soal lantaran KCS dihuni para militan dari berbagai kalangan. Ada yang dari kepolisian, TNI, event organizer, warga biasa, hingga pemkot pun juga bergabung. Kumpulan dari berbagai kalangan yang bisa satu suara dan menjadi komunitas kepercayaan Pemkot Semarang ini membuat KCS bisa dibilang berada di tempat strategis. Karena itu, Nanang mengaku jadi sangat berhati-hati, apalagi mendekati pemilihan wali kota.

”Banyak oknum-oknum yang mendekati untuk kepentingan politik. Tapi seluruh anggota KCS sudah sepakat untuk tidak menyentuh ranah itu. Bukan antipolitik, tapi memang kami tidak ingin memihak siapa pun. KCS hanya ingin Kota Semarang maju. Dan kemajuan itu tidak melulu harus melewati jalur politik,” tutur Nanang.

Pihaknya menilai, sementara ini Semarang sudah cukup oke. Dia pun kurang sreg dengan tagline Semarang Setara yang kerap digembar-gemborkan pemerintah. ”Semarang mau disetarakan dengan siapa? Apanya yang mau disetarakan? Semarang punya potensi sendiri yang kalau mau digali lebih dalam, mungkin bisa lebih bagus dari daerah-daerah lain. Hanya saja branding-nya saja yang kurang,” cetusnya.

KCS juga selalu berpesan kepada pemerintah untuk lebih teliti dalam mengambil kebijakan. Kalau bisa, dirembuk dulu dengan warga kalau memang ada kaitannya dengan mereka. Jangan sampai kebijakan diprotes baru rembukan.

”Alangkah lebih baik kalau rembukan dulu hingga sepakat kedua pihak sama-sama diuntungkan. Kalau dibikin dulu, baru diprotes kan malah dua kali kerja, karena harus direvisi,” pungkas Nanang. (*/aro/ce1)