Sindikat Asal Jakartan Palsukan Ijazah Unnes

437

SEKARAN – Sindikat pemalsu ijazah di Jakarta memalsukan ijazah keluaran Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ijazah tersebut memiliki kemiripan dengan ijazah asli. Tentu saja hal itu membuat gerah pihak Unnes.

Rektor Unnes, Fathur Rokhman, mengatakan, pemalsuan tersebut sangat merugikan kampus yang dipimpinnya.
Fathur mengungkapkan, apa yang dilakukan oleh sindikat tersebut adalah murni pemalsuan. Dia menampik jika ada orang di lingkungan kampus ikut berperan dengan sindikat tersebut.

”Kalau ada orang dalam yang terlibat, tentu akan kami jatuhi sanksi. Modus ini biasanya tidak ada orang dalam yang terlibat. Karena mereka bisa mencontoh ijazah yang sudah ada dengan cara di-scan dan dibuat semirip mungkin. Nanti bisa kita buktikan kalau ijazah itu memang palsu, karena ada tanda-tanda khusus ijazah keluaran Unnes, salah satunya hologram,” jelas Fathur kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (17/6).

Untuk mengungkap praktik pemalsuan ijazah tersebut, pihaknya menugaskan tim untuk berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Dikatakan Fathur, terdapat tiga jenis modus pemalsuan ijazah. Pertama, ijazah yang secara dokumen itu palsu, karena dibuat oleh sindikat yang memalsukan mirip surat-surat berharga.

”Kedua ijazah yang palsu karena perguruan tingginya tidak memiliki izin penyelenggaraan pendidikan tinggi, namun tetap mengeluarkan ijazah. Ketiga adalah ijazah palsu karena perkuliahannya tidak memiliki standar. Kalau di Unnes, perkuliahannya sebanyak 16 kali pertemuan dalam semester, dan standar nasional. Ada Perguruan Tinggi (PT) lain yang hanya satu kali pertemuan, tiba-tiba meluluskan,” ujar Fathur.

Dikatakan Fathur, Perguruan Tinggi yang tidak memiliki izin menyelenggarakan pendidikan, namun mengeluarkan ijazah, menurut dia, harus segera ditertibkan oleh Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti). Karenanya, dia berharap Dikti segera mendata PT yang tidak memiliki izin tersebut.

”Sindikat itu memang memalsukan ijazah untuk dijual. Karena mereka memiliki kemampuan untuk membuat ijazah palsu dengan program IT yang mereka kuasai. Secara tidak langsung hal tersebut merugikan Unnes. Satu sisi memang Unnes menjadi populer, di sisi lain Unnes sangat dirugikan,” tandasnya.

Pembantu Rektor I Unnes, Rustono, mengatakan, jika menemukan orang yang memiliki ijazah Unnes, namun tidak melakukan perkuliahan dengan peraturan akademik yang berlaku, dipersilakan untuk melaporkan langsung ke pihak Unnes.

”Kalau tidak pernah kuliah tapi memiliki ijazah Unnes, itu bukan mahasiswa Unnes. Karena sistem perkuliahan di Unnes sudah berstandar, semua lulusan Unnes pasti kuliah sesuai dengan standar Tridarma dan nasional,” tutur Rustono.

Menurutnya, persoalan pemalsuan ijazah Unnes oleh sindikat, sudah masuk ke dalam ranah kriminal. Pihaknya juga berharap, jika nanti pihak kepolisian telah memperoleh data yang konkret, agar ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan hukum.

”Terkait dengan fisik ijazah, semua perguruan tinggi memiliki ciri khas yang bisa dibuktikan. Kita berharap dari kementerian nanti memberikan kebijakan terkait dengan ijazah. Kita ada nomor barcode dan itu tidak bisa dipalsu. Jadi, dari barcode itu akan diketahui identitas akademik mahasiswa tersebut. Ijazah asli itu dirancang memiliki pengamanan yang bagus. Hanya namanya pemalsuan itu mereka mencari semirip mungkin,” katanya.

Rustono mengakui, kejadian ini merupakan kali pertama dialami oleh Unnes. Karena itu, pihaknya akan melakukan kajian lebih mendalam lagi terkait kasus yang mencoreng nama baik Unnes tersebut. (ewb/aro/ce1)