Dinkes Temukan Kerupuk Mengandung Pewarna Tekstil

660
KHAS BATANG : Warga Desa Karangasem, Batang, saat menjemur kerupuk warna-warni yang selanjutnya dijajakan di sepanjang jalur pantura. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHAS BATANG : Warga Desa Karangasem, Batang, saat menjemur kerupuk warna-warni yang selanjutnya dijajakan di sepanjang jalur pantura. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Makanan ringan berupa kerupuk warna –warni yang dijual di sepanjang Jalan Raya Pantura Batang, termasuk di rest area Plelen Batang ternyata tidak hanya mengandung Bacillus SP, tapi juga mengandung pewarna tekstil Rhodamin B yang berbahaya untuk kesehatan. Padahal kerupuk diproduksi di Desa Karangasem, Keluarahan Proyananggan dan beberapa desa lain di Kecamatan Batang tersebut, sudah dimasukkan dalam list makanan khas Kabupaten Batang.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang, dr Slamet Riyanto,
Dinkes melakukan uji laborat pada beberapa sample kerupuk. Hasilnya, ternyata tidak hanya mengandung Bacillus SP, tapi juga zat Rhodamin B, yakni zat warna golongan xanthenes dyes yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut dan sabun.

Pewarna sintetis ini berbentuk serbuk kristal. Biasanya berwarna hijau atau ungu kemerahan, namun tidak berbau. Ketika berada di dalam larutan air, akan berwarna merah terang berpendar atau berfluorosensi. “Jika kerupuk warna-warni ini dikonsumsi dalam jumlah banyak dan dilakukan secara terus menerus, akan sangat bebahaya bagi kesehatan,” ungkap dr Slamet.

Dengan adanya temuan tersebut, pihaknya berjanji akan lebih intensif dalam memberikan pembinaan kepada pembuat produksi krupuk. Pihaknya akan melakukan monitoring terus terhadap produk pangan yang diperjualbelikan di Kabupaten Batang, khususnya di jalur Pantura yang dijadikan sebagai buah tangan bagi pemudik.

“Perlu ada kesadaran bagi produsen pangan, ketika mengelola makanan. Agar makanan yang dijajakan memenuhi standar dan persyaratan kesehatan, serta memenuhi persyaratan sanitasi dan menjamin keamanan pangan keselamatan manusia. Karena setiap orang yang melanggar ketentuan tentang pangan, akan dikenai sanksi, “ kata Slamet Riyanto.

Sementara itu, Nur Kholis, 37, warga Desa Karangasem, Kecamatan Batang, produsen kerupuk warna-warni menandaskan bahwa bahan kimia tersebut tidak hanya dipakai sebagai pewarna, tapi digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Jika tidak menggunakan bahan pengawet tersebut, maka kerupuk akan cepat basi dan pedagang pun merugi.

“Kalau tidak menggunakan zat kimia tersebut, pedagang akan rugi. Selain itu, warnanya juga tidak jadi menarik, kerupuk akan cepat basi usai dijemur,” tandas Kholis. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.