Perlu Intervensi Penjualan Garam

461

Jika ada pihak yang mau membeli hasil panen dengan harga yang pantas, Lalu cukup yakin, para petani akan meningkatkan kualitas garam. Selama ini, Jateng hanya bisa menghasilkan Kualitas Produksi (KP) 2, atau jenis garam dengan kadar NaCl 85 persen. Hanya segelintir petani yang menghasilkan KP 2 atau yang berkadar NaCl lebih dari 94,7 persen.

Dia membeberkan, Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri tentang Penetapan Harga Penjualan Garan di Tingkat Petani Garam, tidak diterapkan dengan sempurna. Padahal, dalam aturan itu, tercantum harga minimal yang harus dibeli dari petani. Seperti KP 1, harga terendah Rp 750 ribu per ton dan KP 2 Rp 550 ribu per ton. ”Patokan harga ini masih sering meleset,” tegasnya.

Hal itu sangat disayangkan mengingat Dinas Kelautan dan Perikanan sudah berusaha membantu meningkatkan kuantitas dan kualitas garam. Dia mengaku, sejak 2013, para petani diberi bantuan berupa geoisolator. Sebuah peranti yang mampu menambah produksi garam hingga 50 persen. ”Sementara ini baru sekitar 10 persen petani yang bisa dibantu, semoga di 2016 bisa segera tuntas,” harapnya.

Sejak ada bantuan itu, total produktivitas garam di Jateng melonjak drastis. Bahkan peningkatannya tembus 129 persen di tahun 2014. Pada 2013 hanya 276.524 ton, di 2014 menjadi 633.840. Sayang, di 2015 kemarin peningkatannya tidak sebaik tahun sebelumnya. Yaitu hanya 32,7 persen atau 841.543 ton. ”Soalnya musim kemaraunya mundur. Lebih panjang hampir dua bulan dari 2014,” ucap Kabid KP3K Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Lilik. Pati merupakan kontribusi terbanyak, yaitu 381.704 ton. Disusul Rembang 219.477 ton, Demak 130.118 ton, Jepara 56.614 ton, dan Brebes 53.629 ton. (amh/ric/ce1)