Bunyamin: Tak Ada Alasan Lagi Sekolah Tarik Iuran

306

SEMARANG – Dinas Pendidikan Kota Semarang merupakan satuan kerja perangkat dinas (SKPD) yang mendapatkan kucuran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) paling besar pada tahun ini. Yakni sebanyak Rp 1,16 triliun. Diharapkan, dengan anggaran yang besar, satuan pendidikan (sekolah) tidak menarik iuran kepada orang tua murid.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan kucuran anggaran untuk Disdik tahun ini sekitar Rp 1,16 triliun. Anggaran tersebut terbagi atas alokasi belanja tidak langsung sebesar Rp 939 miliar dan untuk belanja tidak langsung sebesar Rp 221 miliar.

Sementara itu, besarnya kucuran anggaran, salah satunya karena tahun ini honor guru tidak tetap (GTT) dan tenaga kependidikan tidak tetap disesuaikan upah minimum kota (UMK) sebesar Rp 1,9 juta/bulan. ”Honor GTT dan tenaga kependidikan honorer ini kan masuk belanja tidak langsung,” katanya, Rabu (6/1). Adapun anggaran yang digunakan untuk belanja langsung, yaitu guna perbaikan sekolah, pembangunan ruang kelas baru.

Dengan kucuran dana yang paling besar tersebut, ia mengharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Semarang, termasuk program sekolah gratis sembilan tahun.

Bunyamin menegaskan, saat ini sudah tidak ada alasan lagi satuan pendidikan yang masuk program sekolah gratis menarik pungutan (tarik iuran) lagi kepada orang tua siswa karena sudah dibiayai dengan anggaran daerah.

Apalagi, seiring dengan peningkatan honor GTT dan tenaga kependidikan honorer sesuai UMK yang diharapkan diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Hari Waluyo menambahkan besarnya anggaran yang didapatkan, salah satunya karena adanya peningkatan honor GTT dan tenaga kependidikan tidak tetap sesuai UMK. ”Kami kan punya database GTT dan tenaga kependidikan tidak tetap yang sifatnya by name, by school. Artinya, nama guru dan tempat mengajarnya. Ya, dasarnya dari database ini,” katanya.

Masih adanya GTT, diakuinya karena selama ini memang ada kekurangan guru dan tenaga kependidikan di sekolah, terutama sekolah dasar (SD) yang harus segera diisi untuk pengoptimalan pembelajaran. (ewb/zal/ce1)