Batu Ametis Ditawar Rp 250 Juta, Batu Calsedon Rp 500 Juta

Doni Purboyo, Pengusaha Rumah Makan Kolektor Batu Akik

432

Atas kecintaannya mengoleksi batu akik, Doni memiliki galeri batu milik pribadi di daerah Mijen, Semarang. Ribuan batu akik berderet menjadi koleksi. Bahkan ia saat ini memiliki batu bahan mentah kurang lebih seberat 25 ton. ”Mulai memilih jenis batu, memotong, hingga memoles dibutuhkan waktu berbulan-bulan,” katanya.

Dalam kompetisi kemarin, Doni mengaku membawa sebanyak 40 batu. Jika dinilai menggunakan uang, kata dia, masing-masing batu memiliki kisaran harga rata-rata antara Rp 25 juta hingga Rp 100 juta. ”Saya menyukai batu sejak SMP, tapi sering mengikuti dan menang kompetisi batu akik sejak dua tahun lalu,” akunya.

Dari kesekian peserta yang sudah berpengalaman tentang batu, lanjut Doni, saingan berat adalah peserta dari Jakarta. Namun, dalam kategori jenis batu gambar, saingan terberat adalah dari Surabaya.

Project Director Gemstone Fighting Championship, Andika Harmoko, mengatakan, kompetisi ini berlangsung mulai 6-9 Januari 2016. ”Ada dua kategori, yakni grup dan individu. Kontes ini merupakan perang bintang secara nasional, hampir semua pencinta batu dari seluruh wilayah Indonesia mengikuti. Mulai dari Jakarta, Semarang, Kalimantan, Lampung, Surabaya, dan lain-lain,” katanya.

Dikatakan, event tersebut menjadi ajang uji nyali para petarung dalam hal dunia batu. ”Kami mengusung konten lokal, setiap kategori memuat kelas-kelas yang merupakan konten lokal. Misalnya, Nogosui dari daerah Purwokerto. Para peserta melakukan pencarian barang tersebut untuk dilombakan,” ujarnya.

Ditambahkan, kompetisi kali ini merupakan event kelima. Sebelumnya digelar di Jepara, dua kali di Solo, Kudus, dan terakhir di Semarang. ”Barangkali pandangan masyarakat umum, batu sudah tidak tren. Tapi bagi pencinta batu yang sudah lama menggeluti batu, tidak pernah akan surut,” katanya. (*/aro/ce1)