Pembinaan Anjal Tak Optimal

337
GAYENG: Pendongeng Pak Kempho (membelakangi kamera) yang dihadirkan RSC Kunthi-Pandawa, mampu membuat anak-anak jalanan, tertawa renyah. Cerita yang disajikan cukup jenaka, namun tetap sarat pesan. Kegiatan ini juga dihadiri siswa Rotary Youth Exchange dari USA, Brazil, dan Mexico. (LINA SOERATMAN UNTUK JAWA POS RADAR SEMARANG)
GAYENG: Pendongeng Pak Kempho (membelakangi kamera) yang dihadirkan RSC Kunthi-Pandawa, mampu membuat anak-anak jalanan, tertawa renyah. Cerita yang disajikan cukup jenaka, namun tetap sarat pesan. Kegiatan ini juga dihadiri siswa Rotary Youth Exchange dari USA, Brazil, dan Mexico. (LINA SOERATMAN UNTUK JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Belasan anak jalanan (anjal) diamankan petugas Satpol PP Kendal. Razia dan pembinaan oleh pihak terkait rupanya tidak mempan mengentaskan anjal di Kendal. Penanganan yang dilakukan belum optimal. Sebab, setelah didata dan dibina, mereka akan kembali lagi ke jalanan.

11 anjal tersebut terdiri dari delapan laki-laki dan tiga perempuan. Tiga diantaranya berasal dari Brebes, sisanya asli Kabupaten Kendal. Semunya terjaring razia lantaran tengah tidur di teras Gedung Partai Golkar, Desa Jambearum, Kecataman Patebon.“Anjal yang terjaring razia ini kami bawa ke Kantor Satpol PP untuk diberi pembinaan. Sebab sangat memprihatinkan karena rata-rata masih berumur belasan tahun,” ujar Kepala Satpol PP Kabupaten Kendal, Toni Ari Wibowo.

Toni menjelaskan, usia anjal tersebut mulai dari 14-19 tahun. Sehingga, akan dilakukan pembinaan supaya tidak lagi hidup di jalan. Karena mayoritas anjal yang terjaring lantaran minimnya perhatian dari orang tuanya. Sehingga kontrol terhadap perkembangan mentalnya tidak ada.”Rata-rata mereka ditinggal orang tuanya kerja di luar negeri. Atau beberapa diantaranya jadi sopir. Intinya tidak ada perhatian dari keluarga,” jelasnya.

Anjal biasanya hidup secara kelompok dan terorganisir secara kecil. Untuk hidup, mereka menjadi pengemis, pengamen atau bahkan pencuri. “Makanya, hal ini kalau dibiarkan mereka akan kehilangan masa depan mereka,” tandanya.

Sebab kelompok anjal, jika dibiarkan akan menjadi kelompok kriminal. Sebab hidup di jalan adalah hidup yang keras, karena mereka banyak bertemu dengan orang-orang yang tidak mereka kenal dan berbaya. “Kami akan memanggil orang tua anjal ini, supaya mereka juga turut berperan dalam menjaga anak-anaknya. Sebab bagaimanapun mereka masih anak-anak yang masih perlu dibimbing dan diperhatikan,” tambahnya.

Seorang anjal, berinisial ST yang disebut sebagai ketua kelompok mengaku kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Selama ini, dia hidup bersama kakak kandungnya di wilayah Kecamatan Brangsong. “Saya sudah tidak punya orang tua. Hidup dengan kakak serba tidak enak. Sedikit-sedikit dilarang dan sering dimarahi akhirnya saya memilih jadi gelandang,” akunya. (bud/zal)