Wisatawan Tak Lagi Terisolasi

Mengikuti Pelayaran KM Leuser Semarang-Karimunjawa PP

517

Kapal yang beroperasi setiap dua minggu sekali ini dijadwalkan berangkat dari Tanjung Emas Semarang, Sabtu pukul 00.00 dini hari. Perjalanan untuk sampai di Kepulauan Karimunjawa, rata-rata 4-6 jam. Sayang, kapal besar ini tidak bisa merapat di dermaga. Hanya bersandar saja lantaran perairan Karimunjawa tergolong dangkal.

Untuk bisa sampai ke daratan, para penumpang harus menunggu jemputan perahu mesin yang mampu mengangkut 15-25 penumpang. KM Leuser hanya bersandar hingga Minggu pukul 13.00. Lagi-lagi, wisatawan harus naik perahu dari dermaga Karimunjawa.

Harga tiket, lanjutnya, dari Semarang ke Karimunjawa Rp 142.000 untuk dewasa, anak Rp 104.000, dan bayi Rp 22.300. Sementara trayek sebaliknya secara berurutan Rp 135.000, Rp 97.000, dan Rp 15.300. Sementara untuk paket pulang pergi (PP) untuk dewasa Rp 277.000, anak Rp 201.000, dan bayi Rp 37.300. Nanti dalam perjalanan pulang dari Karimunjawa penumpang akan mendapatkan fasilitas makan malam. ”Kami hanya menyediakan kapal menyeberang dari Semarang ke Karimunjawa. Paket wisatanya sudah tentu dari agen tour. Kalau mau menginap di kapal juga diperbolehkan,” imbuhnya.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menilai, bertambahnya trayek baru menuju Karimunjawa adalah keniscayaan pariwisata di daerah tersebut semakin berkembang. Menanggapi armada baru ini, dia memberikan apresiasi kepada PT Pelni. Sebab, selama ini, belum ada kapal yang bisa diandalkan untuk mengangkut penumpang dan suplai kebutuhan warga Karimunjawa ketika musim ombak tinggi.

”Semoga Pulau Karimunjawa tidak terisolasi lagi. Pastinya, tambahan trayek baru ini bisa menambah jumlah wisatawan yang datang. Selama ini, rata-rata ada sekitar 200 wisatawan yang datang per pekan,” imbuhnya.

Meski digadang-gadang bisa jadi solusi, perjalanan perdana KM Leuser Sabtu-Minggu (9-10/1) kemarin banyak menuai keluhan dari penumpang. Sebab, rest area sebagai tempat istirahat penumpang terasa panas. Hal itu dikarenakan fungsi pendingin ruangan atau AC tidak bekerja optimal.

Praktis, nyaris seluruh penumpang tidak ada yang menghuni area itu. Mereka lebih memilih tidur di luar ruangan. Memanfaatkan kursi panjang yang telah tersedia, atau nekat menggelar tikar.
”Nggak bisa istirahat di dalam. Panas banget. Mending di luar. Tapi sebenarnya takut masuk angin,” ucap salah satu penumpang, Wiguna.

Tak hanya soal suhu, kebersihan pun juga dikeluhkan Wiguna. Sebab, banyak kecoa-kecoa kecil yang kerap berlarian di dalam dek. ”Bahkan invasi sampai ke matras tempat untuk istirahat,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Mashrul mengaku ini hanya kecelakaan saja. Sebab, biasanya AC menyala sempurna. Bisa mendinginkan rest area secara optimal. ”Baru kali ini ada gangguan AC. Biasanya lancar,” tegasnya. (*/ric/ce1)