85 PKL Matahari Minta Lapak

Relokasi Pedagang Pasar Johar di MAJT

407
DIKEBUT: Sejumlah pekerja tengah memasang lampu penerangan pasar penampungan pedagang Johar di kawasan Masjid Agung Jateng, kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT: Sejumlah pekerja tengah memasang lampu penerangan pasar penampungan pedagang Johar di kawasan Masjid Agung Jateng, kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Proses relokasi para pedagang Pasar Johar ke tempat penampungan sementara di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Selasa (12/1) kemarin memasuki hari kedua tahap pengundian lapak. Sebagian dari pedagang mengaku optimistis dapat kembali menjalankan roda perekonomiannya, namun tidak sedikit pula yang justru pasrah menerima keadaan yang diberikan pemerintah.

Seperti yang diungkapkan Wiwik, salah satu pedagang Johar yang sehari-hari berjualan daging. Ia mengaku menerima hasil undian yang dilakukan Dinas Pasar meski lokasi yang didapatkan jauh dari akses jalan masuk. ”Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jika memang rezeki kita, pelanggan pasti akan datang sendiri,” ujar perempuan yang mendapatkan tiga lapak masing-masing berukuran 2×1 meter itu.

Hal senada diungkapkan Sutinah, salah satu penjual ikan asin. Ia berharap nantinya dapat berdagang dengan nyaman di lokasi tersebut. Karenanya, ia meminta pemerintah segera melengkapi sarana dan prasarana yang membuat pedagang maupun pembeli merasa betah di sana. ”Pada saat musim kemarau tidak kepanasan, dan pada saat musim hujan tidak kebanjiran,” terangnya.

Sebaliknya, salah satu pedagang gerabah, Sugito justru mengaku kecewa kepada pemerintah. Sebab, menurutnya, pemerintah telah melanggar kesepakatan karena lapak yang diberikan tidak sesuai yang digembar-gemborkan. Dari luas 2×2 meter yang dijanjikan berubah menjadi 2×1 meter. Selain itu, penempatan lokasi yang ia dapatkan juga tidak berdasarkan hasil pengundian melainkan penunjukan. ”Tiba-tiba saya diminta untuk memilih lapak yang telah ditentukan. Yakni, di bagian tengah yang lokasinya berbeda dengan pedagang lainnya,” keluhnya.

Ia menambahkan, bantuan yang dijanjikan Pemerintah Kota Semarang sebesar Rp 3 juta juga tak kunjung turun. Hal itu tentu menambah kekecewaan dirinya karena sebelumnya telah diminta membubuhkan tanda tangan. Ia berharap pemerintah berlaku adil. ”Sebagai pedagang kecil saya hanya bisa pasrah karena tidak bisa memberikan masukan. Jika seperti ini, enam bulan ke depan banyak pedagang kecil yang akan bangkrut,” tandasnya.

Selain dihadiri pedagang yang telah terdaftar, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Johar yang tidak terdaftar juga turut memantau lokasi tersebut. Mereka berharap pemerintah memberikan jatah sebagian lapak kepada mereka yang tidak terkena dampak kebakaran.