Jumlah Santri Berkurang setelah Kerap Dilanda Banjir

Melongok Ponpes Salafi Luhur Dondong, Ngaliyan yang Sudah Berusia 407 Tahun

956

Terkait sejarah yang lainnya, ia hanya mengetahui dari cerita kedua orang tuanya. Meski begitu, ia kembali menjelaskan jika setelah meninggalnya Kiai Syafii pada 1711, tonggak kepemimpinan pesantren diserahkan ke Kiai Abu Darda dari Kudus, yang tak lain menantunya sendiri, atau suami dari Nyai Regoniah, putri Kiai Syafii. Setelah Kiai Abu Darda, pengasuh digantikan menantunya Kiai Abdullah Buiqin bin Umar dari Penanggulan, Kendal. Abdullah Buiqin merupakan suami dari Nyai Natijah binti Kiai Abu Darda.

Sepeninggal Kiai Abdullah Buiqin, Pesantren Dondong diasuh oleh Kiai Asyari bin Basuki yang merupakan suami Nyai Masruhah cucu dari Nyai Aisyah binti Kiai Abdu Darda. Asyari digantikan oleh Masqan bin Kiai Ahmad bin Kiai Abdullah Buiqin. Berikutnya, Masqan digantikan oleh adiknya, Kiai Akhfadzul Athfal. Setelah itu, pengasuh pesantren digantikan menantunya, yakni Kiai Mamun Abdul Aziz dari Ngebruk Mangkang. Kiai Mamun adalah suami dari Nyai Dalimatun binti Kiai Akhfadzul Athfal. ”Meskipun kini sepi, bersama warga sekitar berusaha membangun kembali sisa kejayaan ponpes ini. Karena dulu Mangkang memang terkenal sebagai daerah santri,” katanya.

Kini, dibantu warga sekitar, ponpes dan musala kembali dibangun. Makam pendiri pondok sekaligus pemuka agama yang babad alas daerah Mangkang pun telah dipugar. Kondisi saat ini bisa dibilang lebih baik dibandingkan sebelumnya, karena beberapa bangunan ditinggikan agar tidak dilanda banjir. ”Banyak yang datang takziah ke makam, di antaranya beberapa kiai besar di Indonesia. Dulu katanya mereka pernah nyantren di sini,” ujarnya. (*/aro/ce1)