Penyumbang Produksi Padi Terbesar Ketiga di Jateng

Ditargetkan Meningkat 5 Presen

357
PANEN RAYA: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono bersama Kabagops Polres Demak Kompol Sutomo dan Dandim 0716 Demak Letkol Inf Nanang T Wibisono saat panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah, kemarin. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PANEN RAYA: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono bersama Kabagops Polres Demak Kompol Sutomo dan Dandim 0716 Demak Letkol Inf Nanang T Wibisono saat panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah, kemarin. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PANEN RAYA: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono bersama Kabagops Polres Demak Kompol Sutomo dan Dandim 0716 Demak Letkol Inf Nanang T Wibisono saat panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah, kemarin. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PANEN RAYA: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono bersama Kabagops Polres Demak Kompol Sutomo dan Dandim 0716 Demak Letkol Inf Nanang T Wibisono saat panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah, kemarin. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

DEMAK- Kabupaten Demak hingga kini tercatat sebagai penyumbang produksi padi terbesar nomor tiga se Jateng setelah Cilacap dan Grobogan. Yakni, dengan produksi padi gabah kering giling (GKG) sebesar 648 ribu ton. Hal ini disampaikan Sekda Pemkab Demak, Singgih Setyono disela panen raya bersama muspida di lahan pertanian di Desa Sari, Kecamatan Gajah, kemarin.

Menurutnya, produksi tersebut diharapkan dapat meningkat lagi 5 persen dimasa mendatang. “Rata-rata hasil panen musim tanam pertama (MT I) ini bagus dengan harga ditingkat petani yang baik pula,” jelas Sekda dr Singgih didampingi Dandim 0716 Demak Letkol Inf Nanang T Wibisono, Kabagops Polres Demak Kompol Sutomo dan Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Ir Wibowo, kemarin.

Menurutnya, infrastruktur jalan betonisasi yang baik juga telah membantu kelancaran panen raya tersebut. “Jalan usaha tani (JUT) sudah bagus sampai ke sawah-sawah,”katanya.

Kepala Dispertan Wibowo mengatakan, harga gabah kering panen (GKP) ditingkat petani mencapai Rp 4.300 perkilogram. Karena itu, harga tersebut bisa meningkat untuk gabah kering giling (GKG).Menurutnya, panen MT I ini cukup berhasil. Meski musim kekeringan berkepanjangan namun dapat tertolong dengan gelontoran air yang cukup. Selain itu, hama pengganggu tanaman juga dapat diatasi.

Letkol Inf Nanang mengatakan, pihaknya selama ini juga telah mengerahkan personel Babinsa untuk membantu petani sehingga lancar dalam usahanya. “Kita turut bantu pemda dalam produksi pertanian ini,” katanya. Sementara itu, ada 304 hektare sawah di Desa Sari yang kini memasuki masa panen. 1 hektare rata-rata mampu menghadilkan 11 ton gabah. (hib/zal)