Warga Desa Wiru Akan Direlokasi

Terdampak Pembangunan Rel KAI

1141
LANTAI TERBELAH : Mbah Painah warga Dusun Krajan Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang menunjukkan rekahan lantai di rumahnya. Rekahan tanah tersebut terjadi karena terjadi gerakan tanah pasca dilakukan penataan lahan untuk reaktivasi rel KA Kedungjati-Tuntang. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LANTAI TERBELAH : Mbah Painah warga Dusun Krajan Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang menunjukkan rekahan lantai di rumahnya. Rekahan tanah tersebut terjadi karena terjadi gerakan tanah pasca dilakukan penataan lahan untuk reaktivasi rel KA Kedungjati-Tuntang. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LANTAI TERBELAH : Mbah Painah warga Dusun Krajan Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang menunjukkan rekahan lantai di rumahnya. Rekahan tanah tersebut terjadi karena terjadi gerakan tanah pasca dilakukan penataan lahan untuk reaktivasi rel KA Kedungjati-Tuntang. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LANTAI TERBELAH : Mbah Painah warga Dusun Krajan Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang menunjukkan rekahan lantai di rumahnya. Rekahan tanah tersebut terjadi karena terjadi gerakan tanah pasca dilakukan penataan lahan untuk reaktivasi rel KA Kedungjati-Tuntang. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BRINGIN-Pasca dilakukan penataan lahan untuk reaktivasi jalur kereta api (KA) Kedungjati-Tuntang, kondisi tanah di Dusun Krajan dan Mojo, Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang semakin memprihatinkan. Pasalnya, tanah yang ditempati sekitar 23 kepala keluarga (KK) itu tidak dapat ditangani secara teknis, sehingga PT Kerata Api Indonesia (KAI) akan membebaskan tanah seluas 2 hektare lebih tersebut.

Ketua Paguyuban Warga Terdampak Reaktivasi KA, Sudardi, mengatakan, total ada 35 bidang tanah di dua dusun. Tanah tersebut saat ini ditempati untuk rumah dan fasilitas umum serta fasilitas sosial. Semenjak proyek reaktivasi rel KA, kondisi tanah menjadi labil sehingga menimbulkan lapisan tanah bergeser dan rumah-rumah warga menjadi retak.

“Retakan tanah terjadi musim hujan tahun 2014. Selain tanah menganga rumah warga juga retak-retak. Hal itu terjadi karena proyek rekativasi rel KA,” kata Sudardi, yang juga warga RT 4 RW 1, Dusun Krajan, Rabu siang (13/1) kemarin.