30 Persen Pengidap HIV/AIDS Remaja

546

”Sebenarnya, teori-teori itu sudah ada di dalam mata pelajaran. Tapi hanya sepintas. Karena itu, selama dua tahun terakhir, kami memberikan seminar terkait penyuluhan bahaya HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi remaja,” katanya. Pihaknya menggandeng beberapa SKPD dan pihak terkait, termasuk Badan Narkotika Nasional (BNN).

Pelajar sebagai generasi emas, lanjut Titi, perlu memahami hal ini secara detail dan meluas. Sebab, berdasarkan survei beberapa waktu lalu, hanya 17 persen remaja yang benar-benar paham mengenai HIV/AIDS.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo menjelaskan, kasus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Jumlah yang terlihat, ternyata belum seberapa dari jumlah yang sebenarnya. Dia memperkirakan, jumlah penderita HIV/AIDS di Jateng mencapai 47 ribu kasus, dan yang sudah sebanyak 12.500 kasus. Dari angka itu, sebanyak 1.800 penderita sudah meninggal dunia. ”Hanya seperempatnya dari estimasi. Daerah terbanyak di kawasan Pantai Utara (Pantura). Seperti Kabupaten Jepara, Batang, termasuk Kota Semarang,” paparnya.

Penemuan kasus HIV/AIDS agaknya jadi semacam dilema bagi Yulianto. Pasalnya, tingginya jumlah temuan kasus kadang menjadi hal baik lantaran bisa segera diatasi. ”Tingginya temuan kasus HIV/AIDS ini sebenarnya baik atau jelek? Jangan kemudian dihakimi (jelek, Red), sebab semakin banyak kasus yang ditemukan sebenarnya justru semakin baik,” katanya.

Mengenai pencegahan penularan HIV/AIDS, ia mengatakan harus dilihat secara komprehensif, misalnya penutupan lokalisasi yang sebenarnya merupakan kebijakan yang dilematis dilihat dari berbagai aspek.

”Dari aspek pencegahan, keberadaan lokalisasi membuat pencegahan semakin mudah karena sasarannya jelas. Tapi persoalannya bukan hanya aspek kesehatan. Jadi, ada positif dan negatifnya,” tuturnya.

Maka dari itu, Yulianto mendorong masyarakat untuk bersedia memeriksakan diri ke klinik VCT (Voluntary Counseling Test) yang sudah disediakan di rumah-rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta. ”Kami terus berupaya untuk sesegera mungkin menemukan penderita HIV/AIDS yang belum diketahui agar dapat dilakukan pengobatan secepat mungkin, serta mengantisipasi penularan lebih luas,” pungkasnya. (amh/ric/ce1)