Dewan Gelontor Dinkes Rp 4 Miliar

383

SEMARANG – DPRD Kota Semarang mengklaim telah menganggarkan dana sebesar Rp 4 miliar untuk pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Semarang pada 2016. Hal itu menyusul adanya laporan peningkatan jumlah pasien DBD di Kota Semarang sepanjang 2015 lalu.

”DBD memang menjadi salah satu program prioritas selain AKI (angka kematian ibu). Karenanya, melalui anggaran tersebut diharapkan permasalahan ini segera teratasi,” ungkap Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (15/1).

Ia mengakui, jumlah kasus (incident rate) penyakit DBD di Kota Semarang cukup tinggi. Akan tetapi, jumlah korbannya semakin berkurang.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan total penduduk Kota Semarang maka nilainya menjadi sangat kecil. ”Akan tetapi karena korbannya nyawa, maka dianggap tinggi,” ujar politikus Partai Golkar ini.

Ia berharap, anggaran yang cukup besar itu digunakan untuk mendukung gerakan masyarakat dalam mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti itu. Sebab, tren terjadinya penyebaran penyakit ini selalu berpindah-pindah. Jika tahun sebelumnya berada di Genuk, Gunungpati, dan Banyumanik, sekarang berpindah ke Tembalang, Mijen, dan Ngaliyan.

”Setiap kelurahan nantinya akan memiliki gasurkeskel (tenaga survei kesehatan kelurahan, Red). Walaupun kasusnya tinggi, namun korbannya harus dicegah. Bahkan, jangan sampai ada yang meninggal dunia,” beber anggota dewan dari Dapil V Kota Semarang (Banyumanik, Gajah Mungkur dan Gunungpati) itu.

Disinggung upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang, dia menilai sudah cukup baik. Pasalnya, baik camat maupun lurah semuanya turun. Namun perlu diagresifkan lagi, khususnya dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Jika selama ini hanya dilakukan sekali dalam seminggu, yakni pada Jumat, maka intensitasnya harus ditambah 2-3 kali. ”Misalnya, Senin, Rabu, dan Jumat,” katanya.

Untuk diketahui, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, selama 2015 tercatat 1.729 penderita DBD. Dari ribuan kasus tersebut, sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia. Angka tersebut meningkat 101 persen dibanding tahun sebelumnya sebanyak 1.628 pasien dengan total jumlah kematian 27 orang. Kota Semarang menduduki peringkat ketiga terbanyak kasus demam berdarah di wilayah Jateng.