Terawang Ekonomi 2016

396

Unika-web

Oleh:
Agung Sugiarto
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Semarang

TAHUN 2015 telah kita lalui dengan berbagai momentum bidang ekonomi yang cukup berdampak bagi bangsa kita. Perlambatan ekonomi sejak awal tahun, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang sempat mencapai titik terendah sejak tahun 1998 serta tingkat inflasi yang terus meningkat, telah menguras energi kita sebagai sebuah bangsa.

Pemerintahan baru hasil Pemilu 2014 yang dipimpin oleh Presiden Jokowi, secara khusus telah menargetkan bahwa pemerintahan yang baru ini untuk “lari“ mengejar ketertinggalan kita dengan beberapa negara tetangga, terutama untuk mengejar ketertinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur yang menunjang perekonomian secara keseluruhan.

Memasuki lembaran baru tahun 2016, semangat optimisme agaknya mesti kita pelihara dan tingkatkan. Meski ditengah kondisi perekonomian dunia yang masih diliputi sentimen negatif sebagai dampak kenaikan suku bunga The Fed menjadi 0,5 persen, kemungkinan perlambatan ekonomi China sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia serta ketidakpastian harga komoditas utama dunia, tanda-tanda perbaikan ekonomi mulai menampakkan arah stabil (meski belum dapat dikatakan membaik). Dalam Nota RAPBN 2016 yang telah diajukan oleh Pemerintah pada DPR, beberapa asumsi utama yang diajukan adalah: (1) pertumbuhan ekonomi 5,5 persen; (2) inflasi 4,7 persen; (3) nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Rp13.400, dan (4) harga minyak mentah Indonesia USD 60 per barrel.