Indonesia Minim Tenaga Profesional Pasar Modal

344

SEMARANG–Indonesia masih sangat minim tenaga profesional di pasar modal. Bahkan, berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2013 lalu, baru sekitar seperlima penduduk Indonesia atau 21,84 persen yang memiliki kategori well literate atau melek pengetahuan keuangan.

“Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal dan tingkat utilitas produk pasar modal sendiri tercatat masih jauh tertinggal, jika dibandingkan dengan 5 industri jasa keuangan lainnya di Indonesia,” kata Kepala Kantor Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Semarang, Stephanus Cahyanto Kristiadi, Rabu (20/1) kemarin.

Oleh karena itu, katanya, selain harus masif melakukan sosialisasi dan edukasi melalui serangkaian program kepada masyarakat. Tak hanya itu, pasar modal Indonesia juga dituntut harus memiliki tenaga profesional yang kompeten, andal, dan mampu menjawab tantangan di masa depan.

“Akan tetapi, sampai dengan saat ini, jumlah tenaga profesional di industri pasar modal Indonesia yang memiliki kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan bisnis pasar modal masih minim,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyelenggarakan Capital Market Professional-Development Program (CMP-DP). Dengan dibukanya CMP-DP diharapkan dapat meningkatkan minat dan mengembangkan karir profesional di industri pasar modal Indonesia khususnya di SRO.

Sejak dibuka pada akhir tahun lalu, program yang baru dilaksanakan pertama kali ini, memiliki jumlah pelamar yang mencapai 4.200 orang dari seluruh Indonesia. Seleksi tahap awal dilakukan dengan cara menggelar tes tertulis yang dilaksanakan serentak pada pertengahan Januari 2016 di 20 kota di Indonesia yakni Jakarta, Balikpapan, Aceh, Bandung, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jambi, Jayapura, Lampung, Makassar, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pontianak, Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Riau.

Calon kandidat yang lulus dalam tes tertulis akan mengikuti serangkaian tes lainnya sampai dengan terpilihnya sekitar 30 orang terbaik yang akan mengikuti 12 bulan program pengembangan dan 6 bulan on the job training. Nantinya setiap lulusan CMP-DP akan ditempatkan untuk bekerja di tiga lembaga self regulatory organization (SRO) dan afiliasinya.

“Dengan semakin banyaknya ketersediaan tenaga profesional di pasar modal, diharapkan dapat semakin menumbuhkembangkan industri pasar modal dalam beberapa tahun mendatang. Sehingga mimpi pasar modal Indonesia untuk menjadi yang paling besar di kawasan Asia Tenggara maupun Asia dapat terwujud di masa depan,” tandasnya. (dna/ida)