Anggota Tak Hanya Pekerja Bar, tapi Semua Kalangan

Lebih Dekat dengan Komunitas Semarang Independen Bartender (Sinbad)

576
BERLATIH BERSAMA: Sebagian anggota Komunitas Semarang Independen Bartender saat berlatih flair barman di Lapangan Simpang Lima. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERLATIH BERSAMA: Sebagian anggota Komunitas Semarang Independen Bartender saat berlatih flair barman di Lapangan Simpang Lima. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERLATIH BERSAMA: Sebagian anggota Komunitas Semarang Independen Bartender saat berlatih flair barman di Lapangan Simpang Lima. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERLATIH BERSAMA: Sebagian anggota Komunitas Semarang Independen Bartender saat berlatih flair barman di Lapangan Simpang Lima. (DESTIANTI RAHMAWATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sejumlah bartender dan pencinta seni flair Kota Semarang tergabung dalam Komunitas Sinbad atau Semarang Independen Bartander. Komunitas ini sudah berdiri hampir 10 tahun. Seperti apa kegiatannya?

DESTIANTI RAHMAWATI

KOMUNITAS Sinbad didirikan oleh sejumlah barman di Kota Atlas. Mereka mendirikan komunitas ini agar dapat berlatih bersama dan sharing pengalaman sebagai bartender. Sebelum diberi nama Sinbad, komunitas yang terbentuk pada 2005 ini bernama Komunitas Flair Barman. Flair adalah seni melempar botol atau gelas untuk menghibur tamu.

”Flair Barman adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghibur orang lain melalui seni melempar botol atau gelas oleh para barman,” jelas Rifqi, anggota Komunitas Semarang Independen Bartender ini.

Flair Barman tidak hanya diminati para barman saja, tetapi juga mereka yang tertarik untuk mempelajari keahlian ini. Tak heran jika anggota komunitas Sinbad bukan hanya para pekerja bar, tetapi berasal dari berbagai profesi. Termasuk kalangan mahasiswa. ”Tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan,” tambahnya.

Dikatakan, untuk bermain flair sendiri tidak hanya sekadar melempar botol begitu saja. Tapi ada beberapa teknik khusus yang perlu diketahui. Di antaranya, teknik balance, drop, shadow, gradient, dan beberapa teknik gerakan basic lainnya.

Rifqi menjelaskan, tujuan dari komunitas ini awalnya sebagai wadah bagi para barman untuk berlatih flair dan berbagi pengalaman agar mereka dapat menghibur tamunya. Tetapi karena banyak yang menyukai pertunjukan melempar botol atau gelas ini, maka flair mulai mendunia yang kemudian dijadikan sebagai kompetisi baik lokal, nasional maupun internasional.

”Dalam kompetisi biasanya peserta diminta untuk membuat minuman dengan melakukan flair atau atraksi. Bagi peserta yang dapat membuat minuman dengan kombinasi atraksi flair yang paling bagus dan tidak terjadi kesalahan, maka ia akan memenangkan kompetisi tersebut,” jelasnya.

Kompetisi lokal maupun nasional flair barman ini biasanya diadakan di Semarang, Surabaya, Malang, Bandung, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sedangkan untuk kompetisi level internasional biasanya diadakan di Jakarta atau Bali.

Anggota Komunitas Semarang Independen Bartender yang berjumlah sekitar 50 orang biasa berkumpul di Gedung Graha Wisata dan di kawasan Tugu Muda Semarang. Anggota komunitas ini juga pernah beberapa kali mengikuti kompetisi flair barman baik lokal maupun nasional. ”Saya pernah 2 kali mendapatkan juara I dalam kompetisi lokal dan masuk 10 besar kompetisi nasional. Kira-kira sudah 6 kali, saya mengikuti kompetisi,” akunya.

Tidak hanya berlatih dan mengikuti kompetisi, komunitas ini juga sering menggelar event. Salah satunya event tahunan di bulan Ramadan yakni mengadakan charity atau kegiatan amal bersama dengan komunitas lain di Kota Semarang.

”Motivasi saya untuk tetap bertahan dalam komunitas ini, karena profesi saya adalah barman. Selain itu, di sini saya bisa berlatih teknik-teknik flair. Saya juga mendapatkan banyak teman dan bisa sharing pengalaman dengan anggota lain,” ucap pria asli Semarang yang sudah bergabung di Komunitas Sinbad lebih dari 3 tahun ini. (*/aro/ce1)